Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Selintasan Jodoh, Tanpa Darah…

Cap Go Meh 2008

Kelenteng 01

Aksi tusuk-tusuk pipi, potong lidah, mengiris punggung dan tangan, tak lagi terlihat pada prosesi perayaan Goan Siao, atau Cap Go Meh (bahasa Hokkian), Jum’at, 22 Februari lalu. Sekalipun atraksi para Tang Sin (disebut juga Duta Allah) ini paling diminati dan ditunggu-tunggu masyarakat, toh tetap meriah tanpa darah.

 

PROSESI Goan Siao kali ini, juga tidak dengan arak-arakan di jalanan, seperti tahun-tahun sebelumnya, dan hanya dilaksanakan di dalam klenteng. Kondisi ini, tak membuat masyarakat sekitar menyurutkan niat menyaksikan langsung dari dekat.

Enam Klenteng Umat Tridharma di kota Manado, seperti, TITD Ban Hin Kiong, Kwan Kong, Sasana Bhakti, Hian Thian Siang Te, Lo T Jia,  dan Tian Tan Kiong, tetap saja penuh sesak dengan manusia. 36 bendera warna-warni, sebagai perlambang perwakilan malaikatTuhan yang diletakkan berjejer mengelilingi pagar klenteng, merupakan hiasan paling menonjol hari itu.

Di tengah halaman klenteng, berdiri tiga bendera Sang Cin yang merupakan simbol kesucian alam, langit, air dan bumi. Tidak jauh dengan bendera Sang Cin, berdiri bendera berwarna hitam, dikenal sebagai bendera komando. Sembahyang puncak prosesi Goan Siao atau Yuan Xiao, dimulai pukul 09.30 wita. Jika biasanya sembahyang yang dilakukan umat Tri Dharma untuk permohonan pengampunan dosa, kali ini justeru memohon berkat.

“Sembahyang ini, agar umat manusia senantiasa mendapatkan berkah. Angin dan hujan harus serasi. Jangan salah satunya terlalu dominan. Jika keduanya serasi, mengakibatkan tanaman subur, dan perekonomian menjadi makmur,” ujar Sekretaris Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD), Ferry Sondakh.

Acara Cap Go Meh

Penjelasan Sondakh, segendang-tarian, dengan beberapa kelengkapan prosesi, seperti disediakannya air suci, yang diyakini memiliki khasiat  dan kegunaan penting bagi yang membutuhkan. Sekalipun air ini pada awalnya hanya merupakan air biasa, namun setelah melalui prosesi sembayang, air kemudian disucikan. “Akan banyak orang yang berlomba meminta air suci ini, bagi mereka yang mengetahui khasiatnya,” tambah Sondakh.

Hari Raya Cap Go Meh, yakni hari atau tanggal 15 bulan 1 (Cia Gwee) dari tahun baru Imlek, merupakan rangkaian hari raya terakhir di bulan Cia Gwee bagi orang-orang Tionghoa. Cap Go Meh biasanya diisi dengan kegiatan bersembahyang di Kelenteng, atau Vihara/bio. Pada zaman dulu, Cap Go Meh merupakan hari yang dinanti kaum muda-mudi. Sebab, hari itu merupakan kesempatan untuk saling bertemu, saling pandang, dan siapa tahu dapat jodoh.

Pada hari itu, keluarga-keluarga Tionghoa biasanya juga menurunkan sesaji berupa kue keranjang, yang sejak enam hari menjelang tahun baru Imlek atau Cia Gwe Ce It, ditempatkan di atas meja abu leluhur. Menurut Sofyan Jimmy Yosadi, penulis buku tentang Klenteng, warga kota Manado, diperkirakan Cap Go Meh dimulai pada masa Dinasti Han, sekitar tahun 206-220 Sebelum Masehi.  Pesta keramaian Cap Go Meh paling meriah, terjadi di zaman Dinasty Ming, saat Kaisar Thay Su berkuasa (1368-1399).

Akan halnya Tang Sin, pada perayaan Cap Go Meh, harus melalui berbagai pantangan. Selain harus pantang memakan daging, makanan bernafas ataupun bernyawa, termasuk telur ayam, juga harus menjalankan puasa satu bulan lebih.

“Kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu, dan melakukan meditasi setiap hari. Terkadang saatnya orang-orang tidur di malam hari, kita masih melakukan meditasi,” ujar Rio Mulyono, salah satu Tang Sin dari klenteng Bio Agung Tua, Manado. Seperti Dijelaskan Yosadi, Istilah Tang sendiri, artinya mewakili. Shen berarti Roh Suci. Tangshen berarti, roh suci yang diwakili melalui badan atau raga umat manusia terpilih.

Sekilas mengingatkan, sejak tahun 1967, berdasarkan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat; liong dan barong serta arak-arak toapekong terkena pencekalan. Baru tahun 1999, liong dan barong dimainkan secara terbuka. Setahun kemudian, pada 17 Januari 2000, melalui Keppres No 6 Tahun 2000, mencabut Inpres No 14 Tahun 1967. Kini, warga Tionghoa,  tidak lagi kuatir (sekalipun di Sulawesi Utara, tak terasa sejak dahulu), untuk merayakan hari suci mereka, ataupun puncak dari perayaan Imlek, Cap Go Meh.

Atraksi tusuk pipi dan potong lidah, hingga berdarah-darah, memang tidak tersuguhkan tahun ini. Namun, mungkin saja jodoh terjalin, dalam selintasan mata, di tengah hiruk pikuk manusia, dan bau dupa, tak jauh dari Pasar Jengki. (HiRm)

 

March 1, 2008 - Posted by | Icon Manado

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: