Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Pariwisata Sulut bisa Diandalkan

Edwin Silangen Kadis Parbud Sulut

            Objek-objek yang dapat menjadi tujuan para wisatawan bila berkunjung ke daerah ini, begitu kaya dan spesifik sehingga dapat diandalkan. Selain Bunaken, Sulut menyimpan puluhan lokasi penyelaman lain yang juga diminati para petualang alam bawah laut yang berkelas. Lokasi tersebut, diantaranya, Taman Laut Selat Lembeh (wilayah Kota Bitung) yang mulai dikenal dunia pariwisata internasional karena menjadi tempat perkawinan ikan-ikan paus yang spesifik. Selat Lembeh juga diminati karena galaknya sistem arus laut di sana.

Majalah National Geographic pada tahun 2005 sempat membuat laporan khusus tentang keunikan alam bawah laut Selat Lembeh. Bahkan, oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di lingkungan hidup kelas dunia mengklaim wilayah Selat Lembeh sebagai wilayah yang harus dikonservasi, harus dilindungi dari kerakusan tangan-tangan jahil.

Selain itu, Sulut juga masih menyimpan Gunung Api Ruang yang terletak di bawah laut. Di lokasi Gunung Api Ruang, para penyelam Jerman dan Perancis seolah-olah lupa terhadap seluruh keramaian dunia pada saat mereka menyelam mendekati wilayah kawah gunung yang terletak di bawah laut. Kekayaan alam laut dan bahari Sulut masih dilengkapi dengan Pantai Porodisa di perairan Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud. Orang Talaud menyebut pantai itu sebagai Pantai Porodisa.

Sebetulnya, kata Max Siso, tokoh dari Talaud, ungkapan itu untuk menyebut paradiso atau paradise (surga) terhadap perairan Lirung yang memang indah. Penyebutan nama Porodisa dimulai oleh pelaut Portugis ketika pertama kali mendekati perairan Lirung. Mereka ketika itu menemukan panorama alam yang sangat indah. Untuk menyatakan kekaguman mereka terhadap perairan Lirung yang sangat indah, mereka kemudian berteriak ini paradiso (surga). Oleh warga Talaud, paradiso disebut Porodisa. Hingga kini sebutan Porodisa masih saja digunakan oleh setiap warga Talaud. Bahkan, tokoh pengusaha nasional asal Talaud, Jerry Sumendap, dari Kelompok Usaha Penerbangan Bouraq kemudian mengukuhkan nama Porodisa ke dalam nama armada niaga laut yang didirikannya pada tahun 1970-an dengan sebutan Porodisa Lines. Sayang sekali, perusahaan pelayaran itu saat ini tinggal nama.

Andalan Sulut

Kepala Dinas Pariwisata Sulut, Drs Edwin Silangen, mengatakan, sektor pariwisata Sulut ke depan, seperti ditegaskan Gubernur Sinyo Harry Sarundajang, harus menjadi andalan dan unggulan. Ada lima sektor yang hendak dikembangkan secara total di daerah Nyiur Melambai ini, yaitu 1) pengembangan dan revitalisasi pertanian, 2) perikanan, 3) pariwisata, 4) pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan 5) perdagangan internasional. Ke lima sasaran ini akan didukung oleh infrastruktur yang diupayakan semakin memadai, good governance, dan clean government (kepemerintahan yang baik dan pemerintahan yang bersih), serta lingkungan hidup yang baik, terjaga dan berkelanjutan, serta tentu saja kondisi yang aman dan nyaman.

Menurut Silangen, khusus pariwisata, pengembangannya berbasis masyarakat. Artinya, masyarakat bukan hanya jadi obyek, apalagi jadi penonton, tetapi berperan sebagai subyek. Ia menunjuk contoh, dalam setiap upaya pengembangan selalu harus bisa dihitung berapa keuntungan yang bakal diraih masyarakat, berapa persen terjadi penurunan angka pengangguran, dan berapa persen sebuah proyek pariwisata mampu menurunkan angka kemiskinan. Konkretnya, Silangen menunjuk pengembangan pariwisata di Kota Tomohon, Tondano, dan sekitarnya. Di sana tidak harus ada hotel berbintang atau tidak harus didirikan hotel bertingkat. Di kota-kota itu, menurut desain yang disiapkan, akan digalakkan pengembangan home stay. Apalagi, khususnya di Minahasa sudah sangat akrab dan sangat dikenal kamar tamu harus tersedia di setiap rumah. Di setiap rumah di Minahasa, sesuai adat, kamar bagian depan disediakan sebagai kamar tamu. Konsep yang sudah berakar lama di tanah Minahasa ini yang didorong dan diberdayakan dengan menjadikan setiap kamar depan itu memiliki fasilitas sama dengan kamar-kamar hotel. Tinggal tergantung tipe dan kelas rumah, mana yang diarahkan menjadi kamar kelas istimewa, kelas superior, kelas standar, dan sebagainya.

Di Tomohon dan Tondano, hingga dua atau tiga tahun ke depan ditargetkan memiliki 1.000 kamar home stay. Kalau ini terjadi, akan menjadi tambahan pendapatan bagi rakyat, dan otomatis ikut membentuk rakyat menjadi semakin tourist minded. Paling tidak akan diciptakan 1.000 lapangan kerja dengan asumsi setiap kamar mempekerjakan satu orang. Kebetulan Kota Tomohon dan sekitarnya berpengalaman menjadi tempat penyelenggaraan berbagai konferensi atau pertemuan berkelas provinsi, nasional, regional, dan internasional. Tomohon, misalnya, pernah menjadi tempat penyelenggaraan sidang Dewan Gereja-gereja Indonesia, Sidang Dewan Gereja-gereja Asia, Sidang Dewan Gerejagereja Dunia. Pada setiap sidang itu seluruh peserta tinggal di rumah-rumah penduduk. Kita memang merancang hotel-hotel berbintang, tetapi kita juga merancang sistem akomodasi home stay. Tujuannya agar rakyat ikut menikmati pembangunan. Dan diantara hotel-hotel berbintang dengan home stay akan saling bersinergi, sehingga kekurangan kamar hotel akan ditutup lewat kerja sama dengan adanya home stay. (BbS/WeB)

September 15, 2007 - Posted by | Passport

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: