Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Dipersatukan Demi Kemajuan Tanah Minahasa

Prosesi adat yang berlangsung di Watu Pinawetengan Tompaso-Minahasa, akhir pekan lalu yang digagas panitia Festival Seni dan Budaya Sulut menjadi simbol sub etnis di Minahasa kembali disatukan dan tetap bersatu demi kemajuan Minahasa. Acara yang menakjubkan ini merupakan kegiatan pertama yang dilakukan di Minahasa. Hal ini patut diacungkan jempol, karena seorang tokoh Kawanua Overseas (orang kawanua di perantauan) Kombes Drs Benny Mamoto mampu melakukan kegiatan akbar seperti ini yang jarang di lakukan oleh Tou Minahasa.

Acara yang dikemas begitu ‘sakral’ yang bernuansa ritual membuat seeneto Minahasa tertuju pada perhelatan ini karena begitu hebatnya yang dimiliki komunitas masyarakat Minahasa yang mengusung nilai demokrasi dan semangat kehidupan Minaesa.

Semangat persatuan yang digagas Mamoto ini patut kita lestarikan dan kembangkan dan jangan hanya dijadikan sebagai seremonial belaka. Tapi bagaimana persatuan keminaesaan ini terus terwujud dan dapat diimplementasikan dalam semangat persatuan Tou Minahasa. Apalagi Minahasa telah terbagi pemerintahannya secara adminstratif menjadi daerah otonom.

Karena itu, warga Minahasa asli harus sejak dini terus mencintai budaya dan adat Minahasa dapat mengejawantahkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin terpuruk dalam semangat persatuan dan kesatuan. Namun sangat disayangkan beberapa pejabat di Minahasa raya termasuk bupati yang berada di kabupaten/kota tak tampak dalam perhelatan di watu Pinawetengan yang sangat menyentuh demi kelestarian budaya Minahasa.

Bagi juru kunci Watu Pinawetengan Ari Ratumbanua, sekarang ini budaya Minahasa semakin lama semakin lenyap karena perkembangan zaman dan pengaruh budaya asing yang masuk ke tanah Toar Lumimuut.

Dengan munculnya tokoh-tokoh budaya, maka budaya Minahasa dapat dilestarikan dan dikembangkan. Seperti yang diamanatkan oleh para leluhur kita.

Dalam bentuk mempersatukan tanah Minahasa ini, sehingga dalam suatu upacara adat yang digagas oleh Panitia Festival Seni Budaya Sulut terlihat suatu ungkapan syukur bahwa Minahasa ini tetap bersatu, walaupun Tanah Minahasa secara administrasi terjadi pemekaran tapi harus tetap satu dalam keminaesaan.

Lebih lanjut, kata Ari-begitu dia akrab disapa pengunjung tempat sakral ini-selama saya bertugas sebagai juru kunci ada beberapa hal yang terjadi, tergantung dari niat orang tersebut yang datang berkunjung di tempat ini. Yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan di tempat ini yakni tentang hal-hal yang baik, lebih mengutamakan yang Maha Kuasa atau Opo Wananatase, opo Wailan untuk mendoakan anak cucu turun temurun.

“Bagi orang yang memiliki pemikiran yang tidak berkenan atau tidak baik, maka orang tersebut akan diusir ditempat ini seperti yang terjadi pada pak Hiter, selain itu juga ada pak Joos yang tergantung di atas batu, begitu juga dengan pak Hengky yang kepalanya terpukul di batu. Bahkan ada mobil yang berjalan sendiri tanpa ada orang yang mengendarai terjadi pada tanggal 10 Oktober beberapa tahun yang lalu. Jadi bagi mereka yang memiliki pemikiran yang tidak baik datang di tempat watu Pinawetengan akan mengalami akibat dari niatnya yang tidak baik. Disini tidak selalu menyusahkan anak cucunya, malah menuntun kita ke jalan yang lebih baik dan selalu mengutamakan yang Maha Kuasa.” tambah Ari.

Acara yang digagas di Watu Pinawetengan dilanjutkan juga acara upacara adat di Batu Tumoutowa yang bertepatan di dalam lapangan Pacuan Kuda Maesa Tompaso. Tampil berkuda sembilan sub etnis Minahasa diantaranya Tountemboan, Tombulu, Toulour, Tounsawang, Tounsea, Pasan, Ratahan, Ponosakan Belang dan Bantik.

Rombongan berkuda yang menggunakan seragam Kabasaran yang dipimpin langsung oleh Tonaas Jessy Wenas ini melakukan penghormatan di Batu Tumoutowa sambil diringi kelompok Maengket dan disaksikan oleh ribuan pengunjung baik masyarakat Minahasa maupun turis lokal dan mancanegara. Bahkan Bupati Minahasa Selatan Drs RM Luntungan menyempatkan hadir untuk mengikuti prosesi upacara adat ini yang

didampingi Benny Tengker dan Benny Mamoto.

Selain itu juga dalam acara yang sama dirangkaikan dengan Festival songara kacang Kawangkoan dan makan Bapao (Biapong) sebanyak 2007 biji yang dipandu langsung oleh bupati Minahasa Selatan Drs RM Luntungan untuk makan secara serentak, yang sempat hadir dalam perhelatan ini dan akhirnya Festival makan Biapong ini pun mendapat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Menurut Paulus Pangka yang mewakili MURI mengatakan, Kebiasaan makan bersama merupakan hal yang sangat baik, hal ini digalakkan kembali di dalam kehidupan keluarga agar terjadi kerukunan dan nilai-nilai moral pada saat kita makan bersama. MURI dalam hal ini mencatat dari segi kuantitas dan jumlah. Jumlah makan makanan terbanyak memang sudah ada tapi jenis Bapao (biapong) baru kali ini dilaksanakan dengan jumlah 2007 Bapao. “MURI memberikan kriteria membuat semua elemen masyarakat bisa menciptakan MURI yang baru. Jadi makan bapao terbanyak dengan peserta makan serentak secara bersamaan pada tempat yang sama. MURI mencatat pada urutan rekor 2826,” ujar Pangka. (Otnie/WeB)

July 16, 2007 - Posted by | Passport

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: