Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Pariwisata Sulut, Mutiara yang Hilang

Ketika tahun 2002 lalu, di era kepemimpinan Gubernur Drs AJ Sondakh, pemerintah mencanangkan Sulawesi Utara sebagai Gerbang Pariwisata Dunia, Icon yang dijual saat itu, selain Bunaken yang namanya memang sudah mendunia, Sulut membuat produk baru yang nyaris laku –hanya popular di masa sondakh– yaitu objek wisata religius, Bukit Kasih Kanonang. Stakeholders dan segenap rakyat Sulut dibuat bergerak waktu itu. Hasilnya cukup mencengangkan bahwa sepanjang tahun 2002-2005, wisatawan yang berkunjung ke daerah yang berslogan “Kasih tanpa Kekerasan” itu mendekati angka 1 (satu) juta orang.

Kini, ketika kepemimpinan beralih ke Drs SH Sarundajang sebagai Gubernur Sulut hingga tahun 2010, kitapun ketambahan satu objek wisata yang paling berharga, yakni Objek Wisata “Perhatian”. Hampir seluruh tempat wisata di Sulut kini mulai disentuh.

Otomatis ini akan menambah perbendaharaan tempat-tempat yang pantas dikunjungi selama para wisatawan itu stay di Sulawesi Utara.

Hanya saja, perhatian ini jangan hanya karena kepentingan tertentu. Akan tetapi, jadikan pariwisata ini menjadi produk unggul yang benar-benar memberi nilai tambah bagi masyarakat, sehingga dalam hidup mereka akan tumbuh rasa memiliki. Dan, pemerintah (seharusnya) yang memulai.

Demikian simpulan diskusi terbatas SINERGY Talk yang menghadirkan sejumlah narasumber, masing-masing Alex Wowor (Ketua Bappeda), Robert J. Lumempouw, Direktur Pengendalian Penerapan Kebijakan & Program (PPKP) Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI, Sutomo Palar (akademisi/ pengamat ekonomi), Jack Parera (mantan birokrat/pengamat ekonomi sosial), dr Albert Berty Tangel (profesional) Handri Maramis (Perbanas Sulut), Richard Tumilaar (akademisi), Setly Tamod (generasi muda), Steve Palenewen (konsultan design), dan Yongker Rumteh (wartawan /pengamat pariwisata).

Berdasarkan analisis SWOT bahwa sebenarnya di daerah berjulukan Kota Nyiur Melambai ini, lebih banyak keunggulan/kekuatannya dibanding kekurangannya.Hanya saja berbagai potensi ini belum digarap secara professional, sehingga nyaris menenggelamkan promosi pariwisata di daerah yang sama kita banggakan.

Diskusi terbatas yang berlangsung kurang lebih empat jam di meeting room, Sky – Dine & Lounge, Jalan Akhmad Yani Manado awalnya dirancang mencermati hasil Sidang Paripurna Kabinet Indonesia Bersatu, yang dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang Rancangan Akhir Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2008, bertajuk Percepatan Pertumbuhan Ekonomi untuk Mengurangi Kemiskinan dan Pengangguran.

Namun, mengingat waktu yang terbatas akhirnya forum menyepakati membahas reformasi kelembagaan untuk menjamin keberlangsungan (sustainability) pertumbuhan ekonomi khususnya bidang kepariwisataan.

Pemilihan topik ini didasari pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Propinsi Sulawesi Utara tahun 2005-2010 yang memasukkan sektor Pariwisata sebagai salah satu program unggulan daerah ini, dalam memicu akselerasi di berbagai bidang usaha.

Sektor pariwisata di Sulut tak bisa disangkal bila dikelola benar dan simultan –paling tidak diberi perhatian yang cukup—dapat dipastikan akan memberikan multiplier effect dalam berbagai sektor.

Kekayaan keunggulan ini diharapkan dapat memicu masuknya devisa di Sulut, diantaranya objek-objek wisata yang beragam, masyarakatnya yang bisa menerima berbagai kalangan (smiling people), objek wisata unik (tarsius, ikan purba coelacanth, air panas), wisata kuliner, kekayaan budaya, alam yang asri (Danau Tondano, Pantai Moinit, Pantai Lakban, Bunaken) juga objek wisata agrowisata (bunga-bunga khas Tomohon).

Melihat strong point ini, forum diskusi sepakat memberi konten mendasar bahwa pemerintah sudah selayaknya memberi perhatian khusus guna menggerakkan sektor ini, terutama pembangunan sarana prasarana agar akses ke kawasan dimaksud bisa dijangkau dengan mudah. Strong point dalam hal keberanian Gubernur Drs SH Sarundajang mengagendakan pelaksanaan World Ocean Conference pada medio 2009, diharapkan juga bisa menjadi magnet awal untuk menarik para wisatawan berkunjung ke

daerah ini. Menarik investor untuk menanamkan modalnya dalam pengembangan objek-objek wisata yang khas dan unik di daerah ini. Dan, terutama bisa meyakinkan pemerintah pusat untuk membantu mendukung pengembangan pariwisata di Sulawesi Utara.

Persoalannya, APBD Sulut sepertinya belum berpihak pada unit kerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulut. Sebab, untuk unit kerja ini APBD Sulut hanya memberi plafon sebesar Rp. 566.880.000,00 sebagaimana yang diumumkan pemerintah propinsi berdasarkan paket/pekerjaan untuk tahun anggaran 2007.

Sulawesi Utara memang harus mengakui sejumlah kekurangan daerah ini bahwa selain posisi kita yang jauh dari pusat pemerintahan (Jakarta) yang menyebabkan biaya tinggi, juga karena akses kita dari dan ke daerah-daerah tujuan wisata yang sudah lebih menjual seperti Bali, masih kurang. Kemudian soal regulasi. Ketidakberpihakan pemerintah yang dapat tercermin dari kurangnya Perda yang memberikan kepastian berinvestasi dalam bidang pengembangan kepariwisataan, telah membuat kurangnya investor yang berminat

menanamkan modalnya pada sektor ini. Sehingga mengakibatkan beberapa kawasan kita kurang diminati para wisatawan. “Ibarat gelas, orang menjadi tak suka memakainya karena kotor,” sebut Sutomo Palar yang memang terkenal kritis dalam mencermati stakeholders lebih khusus tentu, yang berkaitan dengan pembangunan perekonomian di daerah ini.

Selain itu, kurangnya pengembangan spesifikasi Sulut seperti kekayaan budaya yang dibangun oleh Bali dengan berbagai hasil karya dan budayanya yang telah tertata rapi, membuat daerah kita kurang menarik dikunjungi.

Padahal kita punya Kabasaran, Maengket, Musik Bambu, Pesta Adat Pinabetengan (Minahasa), Mane’e, Masamper, Tulude (SaTal), Tarian Sabela, Talibombang dan Motoayok (Bolmong), Festival Bitung Tatawa (Bitung), Toah Peh Kong, Lampion Festival, dan Karnaval Figura (Manado), Festival Gunung Klabat (Minut), Sawak’ka (Talaud), Manulude/Mandullu-U Tona, Festival Musik Bambu (Minahasa Selatan), Pesta Labuhan di Pantai Bentenan (Mitra), dan masih banyak kekayaan budaya kita. Pengelolaan produk spesifik daerah juga kita belum punya. Padahal di Minahasa saja kita punya Desa Pulutan, di Kecamatan Remboken. Punya eceng gondok di Tondano juga Rumah Woloan di Tomohon dan kerajinan bahan turunan kelapa yang tersebar di beberapa daerah di Minahasa.

”Kita memang sudah harus memikirkan mengembangkan produk-produk daerah yang tidak dimiliki daerah lain. Karena prinsip pariwisata adalah menjual yang tidak dimiliki daerah lain,” jelas Albert Tangel, seorang dokter yang dikenal konsen dengan hal-hal budaya ini.

Satu lagi kelemahan kita yang paling mencolok adalah tidak terintegrasinya sejumlah kegiatan di daerah ini membuat perkunjungan wisatawan berkesan monoton.

Menurut Robert J. Lumempouw, kelemahan ini harus dibenah dari sekarang. Sifat masyarakat kita yang ”saru dutuk tamburi matak” (budaya instan) harus diubah mindset-nya. RJL –begitu profil ini akrab disapa—mencontohkan pengalamannya ketika berkunjung di Penang, Malaysia. Dalam tour itu, kita di bawa ke satu lokasi. Disana rombongan dipertontonkan bagaimana mengolah pala mulai dari cara membelah sampai pada diapakan buah pala dimaksud. ”Inikan kita nilai lucu. Tapi itulah pariwisata, kita

harus kaya dengan kreatifitas,” jelas RJL.

Namun demikian, tambah Jack Parera, kita belum terlambat. Yang penting kita mampu memanfaatkan potensi dan peluang, diyakini apa yang menjadi cita-cita dan keinginan masyarakat Sulawesi Utara pada umumnya pastilah akan tercapai. Parera mencontohkan berbagai peluang yang hingga kini belum dimanfaatkan dengan benar, seperti Bandar Udara Sam Ratulangi dan posisi geografis daerah ini yang persis berada di bibir pasifik sehingga membuka akses kesejumlah negara maju.

Ditambahkan Alex Wowor, kita pun bisa memanfaatkan momentum penting di daerah ini yang akan berlangsung tahun 2009 yakni pelaksanaan pertemuan negara-negara yang memiliki wilayah laut, World Ocean Conference 2009. “Karena momentum ini, sebelum puncak pelaksanaannya berlangsung, berbagai kegiatan pun sudah akan dilaksanakan, seperti Internasional Seabed Authority Conference, WOC’09 Round-Table Meeting, East Asian Seas Workshop, Arafura Sea & Timor Sea Expert Forum Meeting, APEC Working Group Meeting, dan Festival BAHARI 2008 (bekerjasama dgn Kantor Menpora). Selain itu, Konferensi Nasional Geologi Kelautan, Konperensi Kelautan dan Kebumian Indonesia-Jerman, dan usulan kegiatan INTERNATIONAL TALL SHIP PARADE 2009, MANADO BAY (KRI Dewaruci, KRI Arung Samudera, Kapal Layar Maruta Jaya 900, Phinisi Nusantara, Tall Ships dari Seluruh Dunia).

“Semua kegiatan tersebut boleh jadi sebagai peluang guna meningkatkan promosi kita dalam memperkenalkan berbagai potensi dan keunikan daerah ini,” jelas Wowor yang berusaha hadir meski dalam kesibukannya mengikuti pendidikan di Lemhanas.

“Peluang kita untuk mengembangkan potensi Pariwisata di daerah ini memang masih terbuka lebar. Asal saja, kita punya kemauan dan ada rasa memiliki. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan pihak Perbankan seperti Panindo Hash pun bisa menjadi peluang dalam kita meyakinkan (menggoda) daerah lain bahwa Sulut memiliki keunikan tersendiri.

Kemudian, keberadaan masyarakat kawanua di luar negeri, Kawanua Overseas adalah kekayaan kita. Tentu, asal kita mau memanfaatkannya,” jelas Handry Maramis.

Hanya saja, ujar Setly Tamod, dalam melaksanakan hal-hal tersebut kita memiliki banyak tantangan. Sebagai contoh, Setly menyebut soal kepastian hukum bagi investor yang mau berinvestasi di daerah ini. ”Masalah PT Newmont Minahasa Raya (NMR) dan PT Meares Soputan Mining (MSM) telah menunjukkan ketidakmampuan daerah ini menyelesaikan masalah. Harusnya kita mampu menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah. Ingat, kita menghadapi banyak kompetitor, baik dalam negeri

maupun mancanegara. Siapa yang mau berinvestasi bila akhirnya masalah yang didapatkan,” sebut Setly.

“Memang, Sulut harus waspada dalam segala hal bila ingin daerah ini dibanjiri wisatawan. Sebab, selain berbagai kendala tersebut, kita pun masih diperhadapkan dengan masih adanya gangguan Kamtibmas yang timbul dimana-mana.Ancaman-ancaman ini diakui karena masih banyaknya pengangguran di daerah ini,

mencapai 14 %, lebih besar dari pengangguran secara nasional yang hanya kurang lebih 10%,” demikian Richard Tumilaar.

Ditambahkan, Steve Palenewen, gejala kerawanan sosial lain seperti sering adanya demontrasi dengan berbagai alasan, telah membuat keengganan investor untuk bisa bertahan, menanamkan modalnya di kota ini. “Program pemerintah dalam percepatan pertumbuhan sektor riel yang diyakini bisa mempercepat terakomodirnya angkatan kerja sudah selayaknya diperkuat. Sebab, bila program ini jalan, yang pasti pengangguran akan berkurang dan pada akhirnya demonstrasi yang memanfaatkan para “penganggur” akan

berkurang volumenya,” jelas Steve meyakinkan.

Kendala lain, terangkan Yongker Rumte, kurangnya objek wisata yang layak dikunjungi telah menjadi ancaman tersendiri di Sulawesi Utara.

Taman Laut Nasional Bunaken yang menjadi salah satu ICON objek wisata turis internasional, tidak cukup menarik lebih banyak wisatawan asing dan domestik jika tidak diimbangi perbaikan infrastruktur penunjang pengembangan objek wisata lain sebagai alternatif. Sulawesi Utara ke depan perlu memrioritaskan dan mewujudkan salah satu backbone ekonomi dengan menciptakan industri Pariwisata yang berkelanjutan. Semoga. (Tim SGY/Wilson Lumi)

June 4, 2007 - Posted by | TrustNews

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: