Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Abdi Wijaya Buchari: Disiplin dan Bertanggungjawab

Birokrasi di mata Abdi Wijaya Buchari adalah organ penting dalam masyarakat. Kehadirannya agar memberi makna positif bagi kemajuan masyarakatnya. Kecermatan dalam melihat aspirasi masyarakat dan kecepatan dalam bertindak tepat adalah penting untuk seorang birokrat. Untuk melatih kepekaan itu, Abdi punya dua olahraga yakni catur dan tennis meja.

Nama Abdi Wijaya ada kaitannya dengan sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Pada Tahun itu ABRI (Sekarang TNI) sedang giat–giatnya memberantas pemberontakan PRRI/ Permesta. Kebetulan, ayahnya, Amir Buchari yang seorang tentara saat itu sedang bertugas di Kodam V Brawijaya, Jawa Timur juga ikut dikirim untuk menumpas pemberontakan itu. “Makanya nama saya itu nyaris ABRI Wijaya dan bukan Abdi Wijaya, karena ayah saya bertugas di Kodam V Brawijaya,” katanya dalam wawancara exclusive dengan tim dari Tabloid SINERGY, Bacaan Torang Samua yang mo Sukses, di ruang kerjanya.

Sebagai anak dari keluarga tentara, pria murah senyum nan supel kelahiran Manado, 20 Oktober 1959 ini, terbiasa hidup disiplin. Didikan disiplin itu seringkali muncul dari ayahnya yang tentara. “Ayah saya sering mendidik saya agar selalu jujur, disiplin, bekerja keras dan fokus,” kata Abdi mengenang masa lalunya. Sedang ibunya bernama Annie Lenzun, peranakan Kalimantan Selatan dan Minahasa. Sebagai anak kolong, ia sudah terbiasa hidup berpindah–pindah mengikuti tugas ayahnya. Abdi termasuk anak yang ikut merasakan kenakalan masa kecil ala anak–anak tentara. Saking nakalnya, ia pernah membawa pistol ayahnya ke sekolah.

“Waktu itu saya masih sekolah kelas enam SD, tapi sudah berani bawah pistol ayah, ya biasalah kenakalan masa kecil, anak–anak tentara sebaya saya merasa dirinya tentara juga,” ujar Abdi mengenang masa lalunya yang kini diakui sebagai kelucuan masa kecil.

Melihat tingkah anaknya itu sang ayah berkata “Kamu tidak bisa begitu, yang tentara itu ayah, bukan kamu,” kata Abdi menirukan pesan ayahnya.

Sebagai anak kolong, Abdi yang kini menjabat Wakil Walikota Manado menuturkan bahwa masa kecilnya terkadang terlibat aksi perkelahian. Kalau berkelahi mereka biasanya ditangkap oleh Garnizun. Abdi dan teman–temannya lantas diinterogasi siapa bapaknya.

Tinggal dimana dan seterusnya. Kalau sudah diketahui anak kolong, biasanya mereka diantar pulang. “Kalau diciduk paling hitungan jam sudah boleh pulang. Mereka mengantar kami lagi ke rumah. Jadi, kalau nangkap anak kolong itu malah merepotkan mereka,” jawab Abdi sambil tertawa mengenang. Suami Rosmawaty Nasaru, SE ini menghabiskan masa kecil hingga remaja di Kalimantan Selatan. Selepas SMEA di Manado, ia kemudian melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi.

Di kampus inilah ia kemudian merasa perlu mencari tempat untuk mengkader dirinya. Mengingat di kampus waktu itu diberlakukan Politik Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan BKK yang diikuti dengan pembubaran Dewan Mahasiswa, maka lembaga kemahasiswaan menjadi mandul. Mereka tak ubahnya hanya sebagai kurir bagi Dekan dan Rektor.

”Bagi saya lembaga senat waktu itu bukan lagi lembaga yang mengkader diri, makanya saya mencari organisasi yang mampu mengkader saya menjadi pemimpin. Waktu itu HMI-lah tempat yang tepat untuk menggembleng saya,” jelasnya.

HMI dimata Abdi adalah organisasi yang sangat ideal untuk mengembangkan kemampuan dirinya. HMI mendorong untuk mampu menyeimbangkan kemampuan akademik dan kemampuan organisasi dan kepemimpinan. Dari HMI-lah ia merasa mendapat banyak pengalaman berharga tentang banyak hal dalam hidup ini. Waktu itu, kebetulan saya satu kos dengan para tokoh HMI diantaranya Kak Ade dia yang mengajak dan membujuk saya agar masuk HMI. Jelasnya, karir Abdi di HMI berjalan cukup bagus.

 

Filosofi Makan Bubur

Abdi meyakini betul bahwa hidup ini selalu penuh dengan masalah. Namun, baginya masalah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. “Masalah harus dihadapi sebagai tantangan hidup yang harus dipecahkan. Kita tidak bisa lari dari masalah karena setiap hari kita berhadapan dengan masalah. Yang penting bagaimana cara kita menyelesaikan masalah itu,” katanya sambil menambahkan, ”Bila lari dari masalah hanya akan semakin membuat masalah itu semakin besar.”

Lelaki yang tercatat sebagai pecatur andal ini mengibaratkan bahwa kehidupan manusia seperti layaknya pohon kelapa, semakin tinggi batangnya semakin kencang angin yang menerpanya. Begitu pula dengan kedudukan seorang di masyarakat. Makin tinggi pangkat dan kedudukannya semakin besar pula tantangan dan masalah yang dihadapi. Lalu bagaimana mengentaskan masalah?

”Kalau saya mengikuti filosofi bubur. Bubur kalau dimakan langsung ditengahnya pasti kita merasakan kepanasan, tapi kalau dimakan dari pinggir lama kelamaan bubur itu habis juga,” katanya setengah berfilsafat.

Cara memecahkan masalah, tambah Abdi yang kini menjadi dosen Pasca Sarjana di Universitas Sam Ratulangi, harus dimulai dari yang kecil–kecil. Setelah ini, barulah menyelesaikan yang lebih rumit. Jangan dibalik, masalah besar ditangani, yang kecil justru dibiarkan membesar  dan akhirnya kita tidak mampu memecahkannya. Karena masalahnya semakin kompleks. Abdi mengingatkan bahwa Rasullullah tak pernah sepi dari masalah. Malah, Rasullullah berdoa sama Allah, bila hari itu beliau tidak mendapat masalah.

 

Birokrat, Akademi dan Profesional

Abdi Buchari terbilang salah satu kader HMI yang percaya betul bahwa birokrasi harus dikelola secara rasional dengan mengindahkan prinsip-prinsip akademis dan profesionalisme. Tanpa itu, birokrasi akan kehilangan fungsinya di masyarakat. Karena semangat itulah, Ia tidak mau meninggalkan tradisi akademisnya dengan tetap menjadi dosen luar biasa di kampusnya meskipun ia seorang birokrat. Abdi menjadi dosen luar biasa di Unsrat Manado sejak tahun 1990 hingga sekarang.

“Saya biasa mengajar malam hari sesudah pulang kerja. Mengajar itu untuk tetap memelihara tradisi keilmuan yang diajarkan di HMI dan agar saya tetap dapat membaca,” jelasnya memberi alasan.

Kegiatan mengajarnya diakui Abdi telah memberikan sumbangan yang besar dalam menyelesaikan tugas–tugasnya sebagai aparatur pemerintah. Karena itulah tak berlebihan bila karirnya di birokrasi berjalan mulus.

Sedikit bernostalgia, Abdi menuturkan, setelah lulus perguruan tinggi, Ia mulai meniti karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia merintis karir pegawai negerinya dari bawah. Ketekunannya dalam bekerja dan ide–idenya yang cemerlang membuat karirnya berjalan mulus. Pada Tahun 1991 ia dipercaya sebagai penjabat Kepala Seksi Pengembangan Dunia Usaha Bappeda Propinsi Sulawesi Utara. Setahun kemudian, Ia dipromosikan sebagai Kepala Seksi Perhubungan dan Pariwisata. Tahun 1998 Ia menjadi Kabag TUP Setda Propinsi Sulawesi Utara. Nopember 1998 Ia dipercaya untuk mejabat Kepala Bidang Penelitian Bappeda Sulawesi Utara. Kemudian pada 2001 Abdi dipromosikan lagi menjadi Kepala Bidang Litbang Sosial dan Pemerintahan Propinsi Sulawesi Utara. Selanjutnya, pada tahun 2002 Ia dipercaya menjadi Kepala Biro Perekonomian Setda Propinsi Sulawesi Utara. “Semua itu saya jalani dengan motivasi yang tinggi,” paparnya.

Disamping kini sibuk sebagai Wakil Walikota Manado, Abdi juga aktif pada sejumlah organisasi kemasyarakatan maupun profesi. Ia tercatat sebagai Ketua Majelis Wilayah Presidiun KAHMI Sulawesi Utara periode 2003–2008, Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulawesi Utara periode 2000–sekarang. Ketua Pengurus Daerah Percasi Manado 2006–2010. Dan, Ketua Syarikat Islam Cabang Manado 2003–sekarang.

 

Otonomi Daerah

Sebagai aparatur pemerintah dan pelayan masyarakat, Abdi Buchari menyadari betul betapa pentingnya otonomi daerah itu. Abdi memiliki sudut pandang yang tersendiri dalam melihat apa hakekat otonomi daerah. Baginya otonomi daerah memiliki nuansa tersendiri dan tidak terlepas dari kecenderungan sosial yang terjadi. Otonomi daerah itu pada hakikatnya sebagai kebebasan yang demokratis dalam menangkap berbagai aspirasi masyarakat untuk menentukan pilihan

mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Oleh karena itu, lanjut pria murah senyum ini, masyarakat lokal perlu dibina dan dipersiapkan untuk dapat merumuskan sendiri permasalahan yang dihadapi serta merencanakan langkah-langkah yang diperlukan.

Melaksanakan dan mengawasi sendiri rencana yang diprogramkan. “Pada akhirnya masyarakat yang akan menikmati produk yang telah mereka hasilkan itu,” jelas ayah tercinta Mellisa Buchari dan Andrea S Buchari ini.

Namun Abdi menegaskan bahwa masalah otonomi tidak berhenti sampai di situ. Ia membutuhkan dukungan tenaga profesional di bidang masing-masing. “Ini penting agar segala pekerjaan bisa berjalan sesuai kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan ini bisa meminimalisir kesalahan,” tegasnya. Lantas di mana posisi pemerintah? Menurut Abdi Buchari, posisi pemerintah hanya sebagai pengarah, fasilitator dan dinamisator dalam pemberdayaan masyarakat lokal. Terutama dalam penciptaan mekanisme pasar yang bersahabat dengan fokus perekonomian rakyat.

Dalam usaha menggerakkan otonomi daerah secara nyata dalam masyarakat, kandidat doktor ini, melihat ada tiga hal penting yang harus diperhatikan pemerintah daerah sehingga bisa mendorong pembangunan ekonominya. Pertama, pentingnya kemampuan berafiliasi. Seorang pejabat pemerintah daerah harus mampu bekerja sama, bernegosiasi dan membangun networking dengan pihak swasta (DN/LN), dengan pemerintah daerah lainnya, institusi dan pemerintah pusat serta pemerintah asing. Kedua, kemampuan berfikir strategis. Kemampuan ini penting untuk melihat dan mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang dimiliki pemerintah daerah untuk menentukan pembangunan daerah. Ketiga, sikap kreatif dan inovatif yaitu kemampuan untuk menciptakan gagasan-gagasan dan pemikiran baru yang berdampak pada kemajuan daerah.

“Saya yakin kreativitas dan sikap inovatif pemerintah daerah itu akan muncul dalam suatu pemerintahan yang bersifat terbuka, yang menganggap pikiran yang berbeda sebagai asset untuk melakukan perbaikan,” katanya dengan mimik serius.

Mengenai usaha menciptakan iklim pasar yang bersahabat, menurut Abdi, perlu ada kerangka pemimkiran yang jelas. Jangan sampai pembangunan daerah melaju bagitu saja tanpa konsep yang jelas. Pemerintah daerah memang mesti melibatkan seluruh stakeholders daerah untuk disinergikan guna mendorong mereka menjadi pelaku pembangunan daerah. Konsekuensinya, pemerintah harus menjadi fasilitator dan pengarah yang meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi kepentingan bersama. Misalnya pemerintah berusaha keras untuk menjaga benturan kepentingan antara pelaku ekonomi berskala besar dengan pelaku ekonomi berskala kecil. “Keduanya harus tetap diatur dengan baik, sebab memiliki fungsi yang sesungguhnya sama-sama dibutuhkan dalam pembangunan masyarakat,” jelas suami Rosmawaty Nasaru, SE ini.

 

Pentingnya Profesionalisme Birokrasi

Duet kepemimpinan Jimmy Rimba Rogi–Abdi Buchari sebagai Walikota dan Wakil Walikota Manado memang tergolong pasangan yang ideal. Jimmy Rimba Rogi mewakili kalangan Nasrani sedang Abdi Buchari merupakan representasi dari kalangan muslim. Kota Manado memang merupakan kota yang terbuka dan cukup dinamis. Terbuka luas untuk kaum pendatang yang ingin berkunjung, bekerja atau bahkan menetap di kota tersebut.

Pasangan Jimmy Rimba Rogi-Abdi Buchari adalah kepemimpinan pertama kota Manado hasil pemilihan langsung dengan perolehan 29.82 persen suara. Mereka berhasil mengalahkan pasangan calon incumbent Wempie Frederik-Jeremia Damongilala. “Alhamdulillah kami terpilih dan dipercaya masyarakat Kota Manado untuk memimpin mereka selama masa bakti lima tahun mendatang. Kami mohon dukungan dari seluruh rakyat agar bisa menjalankan amanah tersebut dengan baik,” harap Abdi.

Komposisi masyarakat Kota Manado terbilang cukup heterogen. Meski begitu heterogen, namun masyarakat Manado sangat menghargai sikap hidup toleran, rukun, terbuka dan dinamis. “Karenanya Kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal sebagai salah satu kota yang relatif aman di Indonesia,” jelas Abdi Buchari.

Dijelaskannya, saat Indonesia sedang rawan-rawannya akibat goncangan politik sekitar tahun 1999 dan berbagai kerusuhan melanda kota-kota di Indonesia. Kota Manado dapat dikatakan relatif aman. Hal itu tercermin dari semboyan masyarakat Manado, bahwa Torang Samua Basudara yang artinya “Kita Semua Bersaudara”.

Heterogenitas tersebut baginya bukanlah kendala, namun ia ubah sebagai tantangan. Persaingan dalam meraih jabatan di birokrasi ke depan, menurut Abdi, bukan lagi didasari oleh kepentingan kelompok, tetapi harus didasarkan pada kemampuan pribadi dan profesionalisme.

Sebagai aktivis, Abdi memang bukan hanya aktif di organisasi kemasyarakatan, namun ia juga bergiat di organisasi profesional seperti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Kiprahnya di ISEI membuatnya banyak dikenal di kalangan para ilmuwan dan kaum intelektual.

Tak berlebihan apabila dirinya ditunjuk sebagai ketua panitia Kongres ISEI yang ke-18 pada 18-20 Juni 2006. Kongres yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ditutup Wapres Jusuf Kalla itu, berlangsung sukses. (Steven/Wilson)

June 4, 2007 - Posted by | Personal

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: