Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

TONDEGESAN SENTRA BALACAE

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI, Ir. Aburizal Bakrie, September 2006 lalu telah meresmikan Desa Tondegesan dan Kawangkoan sebagai Sentra Balacae untuk wilayah Indonesia Timur, di Balacae Center Kawangkoan. Menindaklanjuti kepercayaan Pemerintah Pusat ini, Pemkab. Minahasa telah menambah sekitar 20 ribu hektar lahan yang siap untuk budidaya Balacae. Hamparan ini terletak di Wilayah Tonsea sampai ke wilayah perkebunan Langowan-Kakas dan pantai Timur Minahasa.

Bupati Kabupaten Minahasa, Drs Vreeke Runtu saat ditemui Tabloid SINERGY beberapa waktu lalu di Wale ne Tou Minahasa, menjelaskan, crash program Pemkab Minahasa ini sebagai langkah antisipasi program Pemerintah Pusat dalam hal energi alternatif, yaitu BIO-DIESEL. Bahan Baku Nabati merupakan solusi terbaik terhadap krisis minyak bumi yang semakin langka. Langkah ini tentu bermaksud mewujudkan masyarakat Minahasa ke depan sebagai warga negara yang Mandiri, Sejahtera dan Demokratis. Hal ini sejalan dengan Visi Masyarakat Minahasa yang akan datang dalam era globalisasi, otonomisasi, dan demokratisasi. Visi masyarakat Kabupaten Minahasa ke depan tersebut, diantaranya, mewujudkan masyarakat yang menjunjung tinggi supremasi hukum. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat, jujur, dan berorientasi prestasi dengan berpedoman pada budaya “Sitou Timou Tumou Tou”. Kemudian, memanfaatkan teknologi untuk pembangunan daerah yang lebih kompetitif dan berwawasan lingkungan.

Selain itu, masyarakat Minahasa juga memiliki visi membangun ekonomi kerakyatan melalui diversifikasi basis perekonomian daerah dengan mengembangkan industri berbasis pertanian. Yang terakhir, meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi wisata serta sumberdaya pendukung. Terobosan mengantisipasi kelangkaan dan mahalnya harga BBM ini, kata Runtu, harus dilakukan antara lain dengan pengembangan biodisel minyak kelapa pengganti solar atau dengan membudidayakan Balacae atau dalam bahasa latin disebut Jatropha Curcas L.

Saat ini, Kabupaten Minahasa mengusahakan mengembangkan Tanaman Jarak Pagar ini pada sedikitnya 5 ribuan hektar lahan di kawasan Pantai Timur Minahasa dari target 20 ribu hektar lahan siap pakai. “Tahun 2006 lalu, penanaman sudah terealisasi sekitar 90-an hektar, sedangkan untuk 2007 ini diprediksikan, tanaman jarak pagar akan menghasilkan empat tangki minyak jarak,” kata SVR, singkatan dari Stevanus Vreeke Runtu.

Pemerintah Pusat melalui Keputusan Presiden Nomor 10 tahun 2006, telah pula dibentuk Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati yang diketuai Menko Kesra Aburizal Bakrie dengan Ketua Harian Ir Al Hilal Hamdi. Para anggotanya mencakup semua instansi terkait atau Interdep, termasuk Pertamina dan PLN. Pembentukan Timnas P-BBN ini, boleh jadi sebagai bentuk ‘kemarahan’ Presiden Susilo Bambang Yudhojono, yang menilai bahwa Keppres dan Inpres sejenis yang dikeluarkan sebelumnya, yaitu Kepres Nomor 5 tahun 2005 dan Inpres Nomor 1 tahun 2006 belum ada action yang jelas.

Bagi masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara pada umumnya, tanaman potensil dari sisi ekonomi dan berpeluang mengatasi pengangguran serta kemiskinan itu, balacae bukanlah tanaman baru. Di sini warga hanya memakai daunnya, itupun untuk penurun suhu badan. “Padahal, balacae sudah lama dikenal di Minahasa, bahkan sejak jaman penjajahan Jepang, warga sudah menanamnya. Bijinya diperas dan dijadikan minyak untuk kebutuhan pesawat Jepang,” ujar Ketua Himpunan Petani Jarak Pagar Sulawesi Utara Peter Willar, mengutip penuturan tua-tua kampung yang ditemui di Kema, Minahasa Utara dan tempat lainnya.

Persoalannya sekarang, kata Peter, warga Minahasa dan Sulawesi Utara tidak atau belum diberikan tambahan pengetahuan tentang aneka manfaat balacae, tatacara pembenihan, budidayanya. Akibatnya, jutaan pohon balacae yang sudah tumbuh di tanah Minahasa, tidak termanfaatkan dengan baik. Kalaupun ada, hanya sekedar pembatas lahan, sesuai nama populernya, jarak pagar. Dan itu tadi, daunnya sekedar penurun panas badan. Sejatinya pohon balacae selain sebagai tanaman pagar, juga bermanfaat untuk pencegah erosi, kayu bakar dan tanaman pelindung. Bahkan, kulit batang, batang, buah (inti biji dan kulit buah), daun dan getahnya, banyak manfaatnya.

Pemerintah melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian telah mengeluarkan Panduan Umum Pembenihan Jarak Pagar. Direktorat Jenderal Perkebunan Deptan, juga pula mengedarkan secara gratis ke semua daerah, buku Pedoman Budidaya Jarak Pagar Sebagai Bahan Baku Nabati (Biodisel). Instansi yang sama, sudah mencetak juga buku Pedoman Mutu Benih Jarak Pagar Sistem dan Prosedur Pembangunan Sumber Benih dan Peredaran Benih Jarak Pagar. Di toko buku juga sudah banyak tulisan seri agribisnis yang mengulas tentang manfaat dan hitungan bisnis Jarak Pagar. Judulnya beragam dan ditulis pakar di bidangnya. Dengan adanya buku panduan ini, apakah akan mendorong petani dan masyarakat segera menanam balacae?

Pertanyaan yang mesti dijawab pengelola instansi teknis seperti Dinas Perkebunan di tingkat Sulut sampai kota/kabupaten, termasuk Minahasa. (WeB)

February 19, 2007 - Posted by | Investment

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: