Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Jati Diri

Jati diri bagi kebanyakan orang dipandang sebagai satu bawaan diri yang sulit terlepas pada prilaku yang bersangkutan. Jati diri seringkali dicari: mungkin karena sikap ingin tahu, yang kemudian dimanifestasikan dalam pelbagai bentuk (entah itu santun atau sembrono). Jati diri bisa berasal dari tempat kelahiran, tempat dimana kita dibesarkan, kebiasaan dimana kita bergaul, lingkungan dimana kita dididik. Tapi, ada yang bilang Jati diri bak sebuah daun kelor; kecil namun tegas dalam pewarnaan jiwa. Jati diri bisa merupakan hati nurani seseorang yang memang tak dapat disusupi dengan apapun. Adalah Brigjen (purn) Jos Buce Wenas. Putra kelahiran Tomohon, 22 Mei 1945 yang bertahan hidup 30 tahun di Tanah Papua ini menuturkan suatu realita hidup yang sangat utuh tentang jingle child Desa Anggruk, Kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya; Enny Kenenggaley namanya. Diceriterakan, Enny Kenenggaley adalah putri kembar yang sebenarnya sudah meninggal. Sebab, kebiasaan di Desa Anggruk, Jayawijaya, bila satu keluarga memiliki anak kembar, maka yang satunya harus dikorbankan karena bisa membawa sial. Hal itu yang terjadi pada Enny Kenenggaley. Mendengar kebiasaan itu, seorang dokter PTT yang ditempatkan di Tanah Papua itu, menggambil Enny Kenenggaley sebelum dibuang ke sungai. Dan, menitipkan kepada perawat asal Manado yang kebetulan akan pulang kampung.

Maka jadilah Enny Kenenggaley kecil, hidup di lingkungan baru, di Kota Tomohon. Otomatis dalam kehidupan sehari-harinya, ia tidak lagi mengenal yang namanya belantara Jayawijaya atau tarian Sajojo ataupun Bahasa Papua. Enny Kenenggaley lebih fasih berbahasa Tombulu, lebih tahu tarian Maengket juga lebih mengenal Batu Pinabetengan. Enny Kenenggaley kecil tak lagi bermain di padang-padang yang luas, panah-panahan, kejar-kejaran dengan serangga juga (bisa) binatang buas lainnya. Ia lebih banyak bermain dengan boneka atau makan permen. Hidupnya tidak lagi diinterupsi oleh kehidupan tak beradab. Ia tidak biasa lagi hidup di alam yang menyimpan tantangan tersendiri, tempat di mana orang belajar untuk hidup.

Di Tanah Papua adalah tempat dimana masih ada mimpi buruk, seperti brutalitas, kanibalisme, perang antarsuku dan sengketa tanah serta pembunuhan adalah menu sehari-hari. Namun, ketika hidup dan belajar di sekolah, di Tanah Minahasa, Enny Kenenggaley, telah berubah jadi sosok manusia yang lebih rapih; karena sudah mengenakan pakaian lengkap. Dan, tidak seperti saudaranya, yang sampai Enny Kenenggaley menjenguk keluarganya di Desa Anggruk, Jayawijaya, masih belum menggunakan kutang dan hanya tampil seadanya seperti anak belantara lainnya. Yang lancar bermain di belantara, bisa tidur di alam terbuka, lincah menari Sajojo, dan suka “polos” dalam berpakaian. Sementara Enny Kenenggaley, lebih fasih berbahasa Tombulu ketimbang bahasa ibu; bahasa Anggruk. Lebih lincah bergerak mengikuti tarian Maengket ketimbang bersajojo. Pertanyaan mengenai Jati diri lalu menyelinap: Apakah Enny Kenenggaley seorang …………..? Apakah Enny Kenenggaley warga ………..? Apakah Enny Kenenggaley mixed? Atau, apakah Enny Kenenggaley memiliki …………ataukah ………….? Enny Kenenggaley mungkin adalah contoh ekstrim mengenai “pergeseran” Jati diri. Tapi, contoh kecil lainnya bisa ditemukan di sekeliling kita. Jika menemukan diri kita berbeda dalam hal ras, bahasa ibu, etnis, peradaban, etika dari kebanyakan penduduk sekitar, pertanyaan inipun muncul dalam bentuknya yang sering mengganggu. Sebagian orang mungkin beradaptasi dengan perbedaan. Namun, seperti Enny Kenenggaley, proses adaptasi di tempat dimana seharusnya ia berada bertahun-tahun, malah hanya menjadi cerita yang ia sendiri tidak mengerti. Tetapi, ada yang drastis dalam diri Enny Kenenggaley. Ia kini lancar berdialog dalam bahasa ibu dan mulai mengerti dengan belantara Irian Jaya. Karena Enny Kenenggaley kini seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Mitra Masyarakat, Timika setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.***

February 19, 2007 - Posted by | SiBOStorial

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: