Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Boulevard Road dan Komunitas “Cina”

Sepanjang Jalan Piere Tendean, kami ingin istilahkan Boulevard Road, kini terus berkembang dan dikembangkan. Kawasan bisnis ini, pada tiga sampai lima tahun kedepan diprediksi bakal menjadi tempat teramai di Kota Manado (Sulawesi Utara). Alasannya, kawasan ini terus diincar sejumlah investor, mulai kelas teri (PKL) hingga pengusaha kelas wah … Ada apa?

Hengky Wijaya, salah satu pengelola Mall di kawasan ini menyebut alasannya bahwa tempat ini memang sudah menjadi gula dimana manisnya sudah tercium oleh semut. Disimpan di mana pun, pasti tetap diincar. Kawasan ini sudah menjadi tempat yang begitu menjanjikan. Sekarang saja, sedikitnya empat Mall masing-masing Bahu Mall, Boulevard Mall, Manado Town Square (Mantos) dan Mega Mall, sudah dibangun di sepanjang jalan ini. Belum lagi Ruko yang tak terhitung banyaknya, berjejer di sepanjang Boulevard. Pemandangan ini hanya bisa kita saksikan di Singapura, Orchard Road namanya. Sekali lagi timbul pertanyaan, ada apa?

Suka tidak suka, peran Komunitas Cina–bukan masalah Pri-Nonpri, sebab di Manado memang tidak ada istilah itu– telah membikin lokasi ini menjadi gula yang begitu enak. Kicky Wangkar salah satu reklamator yang membangun kerajaan bisnisnya di ujung Jl Piere Tendean, jauh sebelum kawasan ini populer menyebut peluang ini sudah ada jauh sebelumnya. “Ini emas yang harus diambil,” demikian Wangkar mengingat awalnya ia mulai mereklamasi lokasi yang kini sudah dilengkapi fasilitas Hotel dan pusat perbelanjaan ini.

Dan, tidak hanya Wijaya-Wangkar yang sudah sukses dibilangan Boulevard ini. Sederet nama komunitas Cina pun telah menangkap peluang ini jauh sebelum Jl Piere Tendean ini te-o-pe. Sebut saja Cecep Lesmana dan Benny Tungka. Kedua pengusaha ini pun tidak menyia-nyiakan peluang bisnis disini.

Menurut Wangkar, sebagaimana dituturkan General Managernya, M Verry Roentoe, PT Bahu Cipta Pertiwi miliknya merupakan perusahaan pencetus pengembang reklamasi pantai pertama di kota Manado pada era kepemimpinan Walikota Manado Ir Lucky Korah MSi. Walaupun waktu itu lokasi ini belum bisa menjanjikan, namun pengembang ini menyatakan kita harus berani mengambil terobosan dan resiko yang berkepanjangan. Selain itu, masalah laku-tidak laku, kita juga harus menghadapi penolakan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Karena, alasan mereka, pembangunan ini nantinya akan berdampak merusak ekosistem dan biota laut yang ada di sekitar Boulevard. Namun karena keyakinan pihak pengusaha dan program Pemerintah Kota Manado waktu itu untuk menjadikan kawasan sepanjang Boulevard sebagai kawasan bisnis, maka perusahaan ini termotivasi. Pemerintah kota ingin menjadikan kawasan ini merupakan satu-satunya kawasan reklamasi terpanjang di Indonesia. Peruntukannya Mall dan Ruko sepanjang pantai. Buktinya, sekarang saja telah berjejeran sekitar empat Mall plus satu pusat perbelanjaan Multi Mart. Dimana tempat ini sudah mirip seperti Singapura dan masyarakat Sulawesi Utara yang diuntungkan, karena mendapat lapangan pekerjaan serta mengurangi pengangguran.

Menurut Roentoe, seiring dengan perkembangan sambil menyesuaikan dengan program Pemerintah Daerah, kawasan ini mulai dikembangkan untuk menunjang program Pemerintah Kota menjadikan Manado sebagai Kota Pariwisata Dunia 2010. ”Sehingga tak heran kami bikin panggung yang dimanfaatkan untuk pagelaran kesenian daerah,” tambah Roentoe.

Lebih lanjut, mantan Kadispenda Kota Manado ini juga menyebut bukti keikutsertaan pihaknya dalam menunjang program Pemeritah Kota dengan menyerahkan hamparan lokasi untuk pembangunan Gedung Pariwisata dan Hutan Kota. Namun sampai sekarang ini belum dimanfaatkan dengan baik. Dan, untuk memberikan kenyaman bagi pengunjung, perusahaan pun memberikan persyaratan bagi pengusaha yang mau membangun kawasan bisnis di sekitar Mall, yakni tidak mengijinkan membangun usaha yang berdampak pada polusi dan bising seperti bengkel misalnya. Kawasan ini juga bisa dijadikan multi purpose, boleh jadi perumahan, perkantoran. Ini tergantung si pengusaha. Jadi diberikan kebebasan ke pengusaha meski bangunannya tidak lebih dari tiga tingkat.

Secara keseluruhan reklamasi ini telah dimiliki para pengusaha, tinggalterserah mereka mau membangun usaha apa. Termasuk hotel Formosa bukan lagi milik kita (PT Bahu Cipta Pertiwi, red), cuma personalianya ada dari perusahaan kita.

“Untuk menunjang World Ocean Summit (WOS 2009), kita membangun kawasan wisata di tempat ini, yang nantinya akan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dalam rangka melestarikan kebudayaan. Kita selalu ada agenda kebudayaan yang dilakukan di tempat yang kita bangun,” tutur mantan Asisten II Pemkot Manado.

Sementara bagi pengusaha yang telah melanglang buana di dunia usaha hiburan, Cecep Lesmana, Owner Manado Convention Center (MCC), dengan gaya low profile mengatakan, kalau kita melihat dari sisi bisnis di kawasan Boulevard masih sangat luas. Meski iapun mengakui sudah mulai padat. Namun menurutnya, peluangnya tetap menjanjikan. Alasannya, masing-masing (tentu) punya konsep tersendiri dalam berbisnis. Arahnya kemana, memang semua bisnis berdasarkan konsep awal dulu. Manado dianggap masih bagus persaingannya, masih seperti sekarang ini, karena kompetitor merupakan suatu acuan akhir, dimana yang diuntungkan konsumen. “Sebab, kalau di dalam suatu areal tidak ada kompetisi, yang dirugikan si pemakai areal,” kata pria tambun ini. Sekarang kembali ke manusianya (pengusahanya), SDM dan mentalitasnya, arahnya mau kemana? Variasi barang boleh sama tapi tingkat service yang terbaik, kan masing-masing.

Peluang ini, saya sudah lihat jauh sebelumnya. Awal membangun di tahun 2001, saya sudah memprediksi Manado akan berubah. Buktinya sekarang sudah mulai terlihat. Memang segala sesuatu dimulai dari pembelajaran, tidak ada orang mulai langsung jadi. Namun di setiap daerah di Indonesia, mempunyai tingkat adaptasi dalam hal meresap perkembangan, cepat atau lambat itu tergantung komunitas masyarakatnya. “Nah, kalau di daerah ini sangat cepat beradaptasi. Sehingga tak heran banyak orang Manado yang keluar daerah pasti akan berhasil,” tukas pengusaha yang mengawali karyanya di dunia entertainment.

Disini kita mencari satu hal yang positif ke depan, kompetisi, service dan memberi ke end user yang lebih bagus. Tapi kompetisi hancur-hancuran tidak ada gunanya. Nah, ini kembali ke konsep misi dan visi dari pada pembangunan itu sendiri. Sebagai pengusaha harus berusaha. Suasana kondusif tercipta di Manado. Yang paling betul motto Sulawesi Utara, torang samua basudara. Kalau tidak, kita memiliki suatu pekerjaan rumah yakni mencari, menjaga dan memiliki serta melaksanakan. Kalau putra daerah di sini mengorbankan dirinya dan belajar bekerja itu berarti, dia mempertahankan peluang kerja untuk generasi seterusnya. Tapi kalau orang tidak belajar maka peluang kerja akan habis. Coba kita lihat Jakarta karena orang luar lebih banyak membaca peluang dan memanfaatkannya, ketika mereka sadar, sudah terlambat. Dimana peluang-peluang itu sudah dipadati orang. Karena itu bagaimana mendapatkan dan melakukan peluang itu, sangat penting. Kedepan semua usaha mempunyai prospek yang bagus, tergantung kondisi di daerah ini apa kondusif atau tidak, tapi yang menentukan end user. Walaupun,sampai sekarang masih merangkak, harus tetap berusaha.

Satu lagi peluang, menyambut Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. Apa pelaku bisnis telah siap? Dalam arti kata, mampu mendatangkan keuntungan. Menciptakan keuntungan tidak mungkin hanya dua orang yang bekerja, tapi seluruh masyarakat Sulut harus bekerja. Jadi perlu kesadaran bersama, ada kebersamaan mulai dari keluarga sampai tingkat yang lebih tinggi sosialnya.

”Sebenarnya saya sangat setuju dengan control posting dan control news yang positif, karena tidak semua lapisan masyarakat menerimanya. Terobosan Pak Gubernur sangat luar biasa, tapi ini harus didukung oleh masyarakat Sulut,” demikian Lesmana.

Sekarang ini usaha yang sedang dilakukan masih dikembangkan terus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Yang sedang dibangun banyak, termasuk fasilitasnya ditambah terus sesuai kebutuhan. Dinamika masyarakat harus diikuti, karena dinamika kebutuhan masyarakat beda-beda kan? Jadi, tambah Lesmana, pelaku-pelaku bisnis harus kreatif. Kalau dikritik harus tambah lebih bagus lagi. Harus pandai-pandai mengatur dengan baik. Contohnya, MCC buat acara apa saja boleh, sangat universal. Perangkat-perangkatnya sudah sangat lengkap peralatannya. ”Ini juga peluang,” demikian Lesmana yang sukses menggelar Jakarta Jazz Festival.

Mantos Oke Punya

Manado, suatu daerah yang perlu di contohi oleh daerah lain. Karena Manado pendidikannya diatas rata-rata dan tidak mudah terprovokasi dengan isu. Kelebihan ini, bagi Hengky Wijaya, telah memberi keyakinan baginya untuk tidak berpaling dari Manado. Pengusaha keturunan yang mengaku asli Manado karena memang lahir di Manado dan telah menancapkan bisnisnya di beberapa kota di wilayah Republik Indonesia ini, mengaku cara dan tingkah laku penduduk ini adalah modal sukses bagi yang mau berusaha.

”Sekarang kita perlu berbuat dulu. Tentu, mewujudkannya harusnya dimulai dari sukses di lingkungan keluarga masyarakat. Sebagai pengusaha, sukses ini harus ditekuni. Mampu menciptakan lapangan kerja ke orang lain, itu berarti sudah berbuat untuk menghidupi orang lain. Jadi semua orang yang bekerja di satu perahu ini harus bergandengan tangan dan saling memiliki. Mantos intinya untuk kebaikan, memberi pekerjaan dan melatih putra-putri terbaik.

Tidak sekedar bisnis. Hasilnya, Mantos oke punya,” kata mantan Ketua Presidium Konghucu Indonesia selama empat periode ini bercerita. Kalau tidak begitu, tambah Wijaya, tidak akan tercipta pengusaha-pengusaha yang tangguh di Sulut. Sekarang di daerah sudah banyak yang bersekolah tinggi, bahkan ada yang jebolan luar negeri. ”Mana mungkin yang hanya sekolah pas-pasan bisa berhasil, sementara yang sudah sekolah lebih tinggi nggak. ”Kalau mengubah hidup harus berbuat dulu,” katanya. Memang bila ingin mengubah hidup dan berhasil perlu memahami filosofi dimana kaki berpijak disana langit dijunjung. Motivasi dari filosofi ini, akan menimbulkan rasa memiliki. Setelah rasa memiliki, fase berikutnya ingin membangun. Setelah ingin membangun, disitulah puncak sukses. Karena pada fase ini, akan ada interaksi positif dan beradaptasi dengan komunitas masyarakat setempat yang akhirnya akan menunjang usaha sehingga bisa meraih sukses.

Menyangkut kendala dalam berusaha, menurut Ketua Yayasan Klenteng Kwan Kong ini, itu dimanamana pasti ada. Selagi hidup didunia pasti akan banyak masalah. Hadapi saja. Kuncinya, lakukan kebenaran dan kebaikan, terbuka, setia dan jujur. Jika sudah demikian pasti masalah bisa diminimalisir. Bagaimana menjaga sikap anda agar dipercaya orang, harus jujur apa yang dikatakan mulut harus dilakukan. Modal bisnis adalah kepercayaan. Bagaimana membuat diri anda dipercaya. “Jika mereka kamu sudah dipercaya pasti akan laku,” demikian Wijaya yang mengaku mengawali bisnis sebagai penjual rokok. (WeB/OnT)

February 12, 2007 - Posted by | TrustNews

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: