Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Menjahit Laut Yang Robek

Benar, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan maritim yang sungguh luar biasa. Benar pula bahwa dengan laut seluas 5,8 juta km persegi Indonesia menjadi negara terluas lautnya di dunia. Benar juga, karena jumlah 17.508 pulau (sekitar 16.000 di antaranya belum berpenghuni), menjadikan Indonesia sebagai Archipelago State atau Negara Kepulauan dengan pulau terbanyak di jagat raya ini. Dalam hal panjang garis pantai Indonesia diperingkat atas sebagai pemilik pantai terpanjang di dunia.

Oleh karena segala anugerah Tuhan Serwa Sekalian Alam itu, kawasan zamrud khatulistiwa ini mendapat julukan baru sebagai “Benua Maritim Indonesia”, atau pula “Benua Archipelago Nusantara”. Akan tetapi, kekeliruan menggunakan paradigma pembangunan dengan terlalu mengacu kepada pendekatan kontinental yang sentralistik feodalistik telah berakibat fatal bagi Indonesia di masa kini.

Tulisan di atas terdapat di cover belakang buku yang fenomenal yang ditulis Jeffrey Rawis, diterbitkan awal tahun 2005, dengan judul MENJAHIT LAUT YANG ROBEK. Paradigma “Archipelago State” Indonesia. Setelah menerbitkan buku tersebut, Rawis mengadakan seminar di lima kota, Jakarta, Batam, Surabaya, Bali dan Manado rentang waktu akhir bulan Februari sampai dengan bulan Juni tahun 2005.

Bukan suatu kebetulan minggu lalu ada pertemuan tujuh daerah kepulauan di Manado, Sulawesi Utara yang dihadiri masing-masing Gubernur, dengan hasil komitmen pemerintah untuk menambah 25% dari Dana Alokasi Umum (DAU) pada tahun 2008 bagi ketujuh daerah kepulauan. Walaupun menurut rekomendasi hasil pertemuan tersebut seharusnya 50% dari DAU.

Apakah rentang waktu dua tahun dari sejak kelahiran buku MLYR menurut kita cepat atau lambat diantisipasi oleh pemerintah SBY ya kita lihat saja. Menurut informasi yang layak dipercaya presiden SBY memiliki buku MLYR ini.***

June 25, 2007 Posted by | SiBOStorial | 1 Comment

MSM (Mengapa Sinyo Menolak)

Gubernur Sulawesi Utara Drs. Sinyo H Sarundajang, melalui Surat No.545/2201/SEKR. Tertanggal 20 Desember 2005 yang ditujukan kepada bapak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral R.I. di Jakarta perihal USUL PENGHENTIAN SEMENTARA AKTIVITAS PT. MEARES SOPUTAN MINING, yang pertama isinya MSM wajib menyusun Amdal baru dan tidak cukup hanya dengan Revisi RKL/RPL. Kedua Aktivitas MSM mendapat penolakan dari masyarakat termasuk LSM daerah. Ketiga Bahwa Resistensi masyarakat dimaksud dari kajian yang dilakukan telah berimplikasi pada beragam aspek antara lain: Aspek Kamtibmas, Lingkungan Hidup, Sosial Kemasyarakatan bahkan dinilai menjurus Instabilitas di daerah. Keempat Bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, kami mengharapkan kepada bapak Menteri untuk kiranya dapat mempertimbangkan penghentian sementara aktivitas PT. MSM.

Pertanyaannya adalah apakah SHS punya cukup waktu dan pikiran jernih?

Hanya dua bulan mengadakan kajian mengingat beliau baru dilantik menjadi Gubernur Sulut 2005-2010 pada bulan Oktober 2005. Siapa kiranya yang memberikan masukan ke beliau sehingga SHS mengusulkan penghentian sementara aktivitas MSM? Siapapun yang memberikan masukan ke SHS haruslah mereka yang ingin masyarakat Sulut sejahtera. Tabloid Sinergy edisi ini mencoba memberikan masukan kepada semua pihak untuk sama- sama memikirkan kesejahteraan masyarakat. Karena itulah sesuai VISI dan MISI SHS sehingga beliau dipilih sebagian besar masyarakat Sulut menjadi Gubernur Sulut pertama hasil pilihan rakyat. Jangan biarkan masyarakat menjadi bingung pilih MSM atau dukung SHS. Sebaiknya jangan ada pihak-pihak yang memancing di air keruh. Saat ini haruslah kita berbicara sesuai hati nurani kita. Ingatlah pesan Oom Sam, SI TOU TIMOU TUMOU TOU. (Adlin)***

May 14, 2007 Posted by | SiBOStorial | Leave a Comment

SULUT BELAJAR DARI SINGAPURA

Kita pernah mendengar ungkapan “kecil-kecil cabe rawit”. Ungkapan ini mungkin bisa diberikan untuk Singapura. Sebagai salah satu negara terkecil di dunia, Singapura adalah negara maju yang tidak kalah dengan negara-negara maju lainnya seperti Amerika, Inggris, Jepang, dan Australia. Untuk urusan teknologi terutama di Asia, Singapura hanya kalah dari Jepang. Saat ini pemerintah Singapura sedang mengembangkan internet wireless service in public places dimana setiap orang dapat mengakses wireless internet ditempat umum mana saja.

Negara dengan luas 697 Km2 ini (sekitar satu per dua puluh dua dari luas Sulawesi Utara) telah menjadi bagian penting dari sistem perdagangan di Asia terutama di Asia Tenggara. Seorang supir taksi di Singapura pernah berkata kepada saya kalau dengan mobil kita hanya butuh waktu kurang lebih 45 menit untuk menempuh jarak dari bagian paling Barat sampai bagian paling Timur Singapura. Namun, walaupun tidak sebesar negara-negara tetangganya, Singapura mampu mengembangkan apapun sumber daya alam yang mereka punya.

Saat masih dibangku SMP, saya masih ingat bagaimana guru geografi mengajarkan bahwa letak Indonesia sangat strategis karena terletak di antara dua samudera dan dua benua. Sayang sekali negara kita belum dapat memaksimalkan keuntungan ini. Justru Singapuralah yang berhasil memanfaatkan kondisi ini dengan menjadi salah satu negara transit dikawasan Asia Tenggara. Kondisi ini berperan besar membangun Singapura baik itu dari sektor perdagangan atau sektor pariwisata. Sebagai contoh, Changi Airport sebagai salah satu Airport terbesar di dunia menjadi tempat transit untuk penerbangan dari dan yang menuju Australia. Dengan kata lain Singapura menjadi negara yang “menghubungkan” Asia dan Eropa dengan Australia. Ini membantu Singapura untuk terus meningkatkan sektor pariwisatanya.

Dari data statistik yang saya dapat dari Singapore Tourism Board, jumlah wisatawan yang datang ke Singapura selama tahun 2006 mencapai 9.7 juta jiwa. Sebagai informasi, jumlah penduduk Singapura berjumlah kurang lebih 4.5 juta jiwa. Bisa dibayangkan bagaimana sektor pariwisata telah menjadi salah satu sektor yang memberikan pendapatan terbesar untuk devisa negara.

Kita seharusnya bisa memanfaatkan keuntungan akan posisi strategis ini terutama Sulawesi Utara yang letak posisinya langsung berhadapan dengan samudra Pasifik. Kembali ke teori marketing dimana kita tahu kalau di mall-mall atau pertokoan,

toko yang letaknya di depan pasti lebih mahal karena gampang ditemukan orang daripada

toko yang letaknya lebih ke dalam. Dalam hal ini masyarakat Sulut perlu bersyukur

akan letak dan kondisi daerah nya yang strategis. Ini menjadi kesempatan untuk SULUT untuk memperkenalkan daerahnya. Pariwisata adalah salah satu sektor yang dapat digunakan untuk memperkenalkan SULUT ke dunia Internasional. Taman Laut Nasional Bunaken merupakan keunggulan yang berharga untuk mempromosikan SULUT. Keindahan akan taman laut ini harus terus dipelihara baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat sendiri. Selain itu, pembangunan infrastruktur-infrastrukur dan sarana pendukung juga merupakan faktor penting untuk mempromosikan SULUT.

Singapura tidak mempunyai keindahan alam seperti Bunaken namun mereka dapat meningkatkan sektor pariwisata melalui pembangunan infrastruktur dan sarana pendukungnya. Airport, Hotel, Pertokoan, Transportasi, ini adalah contoh-contoh infrastruktur yang harus dibenahi dan dikembangkan di SULUT. Lebih dari itu, juga diperlukan alat untuk mempromosikan secara langsung akan SULUT itu sendiri.

Singapore Airlines adalah contoh alat yang digunakan oleh Singapura untuk memperkenalkan tentang negaranya ke dunia internasional. Bersama Fly Emirates dan British Airways, Singapore Airlines telah berhasil menjadi maskapai penerbangan terkemuka di seluruh dunia sekaligus membawa Singapura ke mata internasional.

Dalam Tabloid SINERGY edisi pertama, dikemukakan bahwa salah satu keunggulan SULUT untuk menyambut World Ocean Summit 2009 adalah letaknya yang berhadapan dengan Pacific Ocean. Ini menunjukan bahwa pemerintah daerah sudah melihat kesempatan akan letak daerah yang strategis ini. Saat ini kembali ke pemerintah daerah itu sendiri dan masyarakat SULUT, bagaimana memanfaatkan kesempatan yang telah ada. Maju Terus SULUT!

(Renzi Renditya, Koresponden SINERGY Singapura)

March 12, 2007 Posted by | SiBOStorial | 1 Comment

Pengembangan SDM Sulut

Pertengahan Februari 2007 ini, tepatnya tanggal 14 yang lalu, hari yang paling bersejarah bagi warga Sulawesi Utara, dimana ketika itu putra-putri terbaik bangsa ini, kita sebut saja diantaranya Ch Ch Taulu, BW Lapian dan Nona Politton, bersinergi dengan Pemerintah Pusat (meski tanpa garis komando) melakukan satu prestasi yang prestisius. Momentum besar ini yakni keberanian Negeri Sulawesi merobek bendera Belanda dan mengibarkan Bendera Merah Putih sebagai satu-satunya bendera kebangsaan Bangsa Indonesia.

Nah, dihari tanggal heroik ini, Kantor Tabloid SINERGY mendapat kehormatan dikunjungi Direktur Pengendalian Penerapan Kebijakan & Program (PPKP) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pusat, Ir Robert Jeffrey Lumempouw, MSi. Tamu kehormatan ini disambut langsung Pemimpin Umum/Pemred Ir Ronald Lumempouw didampingi Pimpinan Perusahan, Rudyard A. Riswan L., SE dan Pimpinan Redaksi Drs B. Wilson Lumi.

Kunjungan ini selain ingin melihat dari dekat penerbitan Tabloid SINERGY yang pro pembangunan, juga dimaksudkan untuk membagi wawasan, cara berpikir nasional, mengedepankan kepentingan publik dengan tidak meninggalkan nilai-nilai budaya, historis dan etika.

Dalam diskusi singkat yang juga diikuti segenap kru Tabloid SINERGY, mantan Kakanwil Badan Pertanahan Nasional DKI Jakarta, Bung Robby -begitu ia akrab disapa- membuka wawasan berpikir kita dengan ucapan, “Bangsa yang besar memang tidak harus meninggalkan nilai-nilai kebangsaan.” Nilai-nilai kebangsaan seperti menumbuhkan komitmen kebangsaan yang mengutamakan kepentingan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan akselerasi di berbagai bidang guna mewujudkan masyarakat yang demokratis dan sejahtera.

Mendengar ini, kita teringat dengan pemikiran Gubernur Sulawesi Utara, Drs SH Sarundajang yang juga mengangkat isu tersebut, sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2005-2010. Hanya sayangnya, meskipun sejumlah poin penting yang dinilai dapat mempercepat terwujudnya sasaran pembangunan ini sudah diangkat, namun masih kurang direspon di tingkat pelaksana sehingga outcome-nya saja sulit dicapai.

Menurut Bung Robby, kelemahan ini bersumber dari kurangnya SDM berkapasitas daya pikir (minimal) sama searah, sama dalam dengan Gubernur. Kritik sekaligus tantangan bagi kita “Tou Kawanua” untuk memacu diri, agar dapat memahami sekaligus bisa menjalankan, khususnya program-program brilian yang telah dicanangkan Gubernur Sarundajang dalam RPJMD yang telah di-Perda-kan itu, memang perlu dijawab. Pemerintah Daerah sudah cukup jeli. Perhatian di bidang pendidikan yang sasarannya menciptakan kader-kader bangsa, menciptakan puluhan atau ratusan bahkan kalau bisa ribuan Sarundajang-Sarundajang baru, pun dilakukan. Sebab, bila tidak memberi stress disana, bisa benar apa yang sering kita dengar dalam berbagai pertemuan: ”Gubernur so lari saratus, orang Sulut (terlebih aparatnya) lari sapuluh,” Jika demikian, hasilnya“tong tau pasti,” kata Bung Robby sambil tersenyum dan mengangkat kedua tangannya sebatas dada.

Dalam RPJMD, Pemerintah Propinsi memang telah menata beberapa alternatif dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini, program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, pendidikan menengah, pendidikan tinggi sampai program pendidikan luar sekolah, peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, serta program manajemen pelayanan pendidikan. Jika demikian, itu berarti programnya sudah baik. Jadi yang diperlukan kini tinggal aplikasinya, bagaimana menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan, diantaranya komitmen yang mengutamakan kepentingan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dalam akselerasi di berbagai bidang guna mewujudkan masyarakat yang demokratis dan sejahtera. Sejalan dengan inilah, Tabloid SINERGY Bacaan Orang (mau) Sukses (SiBOS) Network hadir. Semoga bermanfaat.***

February 26, 2007 Posted by | SiBOStorial | Leave a Comment

Jati Diri

Jati diri bagi kebanyakan orang dipandang sebagai satu bawaan diri yang sulit terlepas pada prilaku yang bersangkutan. Jati diri seringkali dicari: mungkin karena sikap ingin tahu, yang kemudian dimanifestasikan dalam pelbagai bentuk (entah itu santun atau sembrono). Jati diri bisa berasal dari tempat kelahiran, tempat dimana kita dibesarkan, kebiasaan dimana kita bergaul, lingkungan dimana kita dididik. Tapi, ada yang bilang Jati diri bak sebuah daun kelor; kecil namun tegas dalam pewarnaan jiwa. Jati diri bisa merupakan hati nurani seseorang yang memang tak dapat disusupi dengan apapun. Adalah Brigjen (purn) Jos Buce Wenas. Putra kelahiran Tomohon, 22 Mei 1945 yang bertahan hidup 30 tahun di Tanah Papua ini menuturkan suatu realita hidup yang sangat utuh tentang jingle child Desa Anggruk, Kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya; Enny Kenenggaley namanya. Diceriterakan, Enny Kenenggaley adalah putri kembar yang sebenarnya sudah meninggal. Sebab, kebiasaan di Desa Anggruk, Jayawijaya, bila satu keluarga memiliki anak kembar, maka yang satunya harus dikorbankan karena bisa membawa sial. Hal itu yang terjadi pada Enny Kenenggaley. Mendengar kebiasaan itu, seorang dokter PTT yang ditempatkan di Tanah Papua itu, menggambil Enny Kenenggaley sebelum dibuang ke sungai. Dan, menitipkan kepada perawat asal Manado yang kebetulan akan pulang kampung.

Maka jadilah Enny Kenenggaley kecil, hidup di lingkungan baru, di Kota Tomohon. Otomatis dalam kehidupan sehari-harinya, ia tidak lagi mengenal yang namanya belantara Jayawijaya atau tarian Sajojo ataupun Bahasa Papua. Enny Kenenggaley lebih fasih berbahasa Tombulu, lebih tahu tarian Maengket juga lebih mengenal Batu Pinabetengan. Enny Kenenggaley kecil tak lagi bermain di padang-padang yang luas, panah-panahan, kejar-kejaran dengan serangga juga (bisa) binatang buas lainnya. Ia lebih banyak bermain dengan boneka atau makan permen. Hidupnya tidak lagi diinterupsi oleh kehidupan tak beradab. Ia tidak biasa lagi hidup di alam yang menyimpan tantangan tersendiri, tempat di mana orang belajar untuk hidup.

Di Tanah Papua adalah tempat dimana masih ada mimpi buruk, seperti brutalitas, kanibalisme, perang antarsuku dan sengketa tanah serta pembunuhan adalah menu sehari-hari. Namun, ketika hidup dan belajar di sekolah, di Tanah Minahasa, Enny Kenenggaley, telah berubah jadi sosok manusia yang lebih rapih; karena sudah mengenakan pakaian lengkap. Dan, tidak seperti saudaranya, yang sampai Enny Kenenggaley menjenguk keluarganya di Desa Anggruk, Jayawijaya, masih belum menggunakan kutang dan hanya tampil seadanya seperti anak belantara lainnya. Yang lancar bermain di belantara, bisa tidur di alam terbuka, lincah menari Sajojo, dan suka “polos” dalam berpakaian. Sementara Enny Kenenggaley, lebih fasih berbahasa Tombulu ketimbang bahasa ibu; bahasa Anggruk. Lebih lincah bergerak mengikuti tarian Maengket ketimbang bersajojo. Pertanyaan mengenai Jati diri lalu menyelinap: Apakah Enny Kenenggaley seorang …………..? Apakah Enny Kenenggaley warga ………..? Apakah Enny Kenenggaley mixed? Atau, apakah Enny Kenenggaley memiliki …………ataukah ………….? Enny Kenenggaley mungkin adalah contoh ekstrim mengenai “pergeseran” Jati diri. Tapi, contoh kecil lainnya bisa ditemukan di sekeliling kita. Jika menemukan diri kita berbeda dalam hal ras, bahasa ibu, etnis, peradaban, etika dari kebanyakan penduduk sekitar, pertanyaan inipun muncul dalam bentuknya yang sering mengganggu. Sebagian orang mungkin beradaptasi dengan perbedaan. Namun, seperti Enny Kenenggaley, proses adaptasi di tempat dimana seharusnya ia berada bertahun-tahun, malah hanya menjadi cerita yang ia sendiri tidak mengerti. Tetapi, ada yang drastis dalam diri Enny Kenenggaley. Ia kini lancar berdialog dalam bahasa ibu dan mulai mengerti dengan belantara Irian Jaya. Karena Enny Kenenggaley kini seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Mitra Masyarakat, Timika setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.***

February 19, 2007 Posted by | SiBOStorial | Leave a Comment

Kata SINERGY

Kata Sinergy, Sinergisme, Sinergisitas, seringkali diucapkan orang tanpa kadangkala tidak tahu apa artinya. Di kamus bahasa Indonesia-Inggris edisi ketiga oleh John M. Echols dan Hassan Shadily, penerbit PT Gramedia Jakartapun tidak ditemui apa terjemahan kata SINERGY. Memang kata ini bukan asli kata Indonesia. Tapi bila membaca di buku Mencari Bentuk Otonomi Daerah, Suatu Solusi dalam Menjawab Kebutuhan Lokal dan Tantangan Global, DR. J. Kaloh, hal 159. “Stephen R. Covey dalam bukunya Principles Centered Leadership (1993) mengatakan bahwa SINERGI yang dikerjakan bersama lebih baik hasilnyadaripada dikerjakan sendiri-sendiri, selain itu gabungan beberapa unsur akan menghasilkan suatu produk yang lebih unggul. SINERGI mengandung arti kombinasi unsur atau bagian yang dapat menghasilkan keluaran lebih baik dan lebih besar. Gubernur Sulut Drs. SH Sarundajang mengatakan di dalam Kata Pengantar Buku Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Utara, tahun 2005-2010: “Kami berharap dukungan, kerjasama dan kerja keras-cerdas dari semua pihak tersebut terus terbina dan berlangsung agar makin memperkuat SINERGISME dan jejaring aliansi strategis yang sangat dibutuhkan untuk memajukan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia di Sulawesi Utara,…” dan juga buku yang sama pada hal 357 “SINERGITAS pelaksanaan pembangunan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dibenahi termasuk SINERGITAS antara Pemerintah Daerah Provinsi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota maupun SINERGITAS antara satuan kerja….Harapan utama dari terciptanya SINERGITAS pembangunan ini agar kesejahteraan masjarakat dapat ditingkatkan. Oleh karena itu perlu pemahaman arti kata SINERGY yang benar supaya seluruh komponen Masyarakat dan Pemerintah bisa saling berSINERGY demi tercapainya kesejahteraan masjarakat. Kehadiran TABLOID MINGGUAN SINERGY di kancah media pers di Sulut yang sangat kompetitif ini, terasa sangat berat. Tetapi kami mencoba memberikan yang terbaik dari kami, semoga pembaca bisa mengambil manfaat atas kehadiran kami di Daerah Nyiur Melambai ini. Bersinergilah kita menyukseskan WOS 2009 dan MANADO KOTA PARIWISATA DUNIA 2010. Pakatuan Wo Pakalawiran.

February 12, 2007 Posted by | SiBOStorial | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.