Sibosnetwork’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Parigi Tujuh Tumatenden

Cerita legenda Tumatenden yang disebut-sebut sebagai puteri kayangan yang akhirnya menjadi milik orang Minahasa, ternyata bermukim di wilayah Kota Manado. Memang ceritera ini berkembang merakyat di seantero Minahasa, karena Kota Manado ketika itu masih masuk wilayah besar Keresidenan Minahasa. Namun, menyusul pembagian wilayah, setelah Manado menjadi kota otonom, saatnya juga kita bisa memilah legenda mana pula yang harus mengikut dengan perwilayahan tersebut. Tapi, tentu semua ini harus diikuti dengan bukti otentik, fakta sejarah, dan kebenaran ceritera. Coba kita buktikan!

Di puncak lembah Tuminting, pasnya terletak di Kelurahan Kombos Timur, Lingkungan III Kecamatan Singkil, Kota Manado, di sini terdapat dua lokasi mata air dimana masing–masing lokasi memiliki tujuh sumber mata air yang keluar dari antara celah batu besar dan sangat bening. Sumber air ini, disebutkan tidak pernah kering sekalipun pada musim kemarau berkepanjangan.

Konon ceriteranya, pada jaman nenek moyang orang Minahasa, lokasi ini merupakan permandian dari tujuh orang puteri yang berasal dari khayangan, salah satunya adalah Puteri Tumatenden. Antara mata air yang satu dengan yang lainnya, tidak terpaut jauh, sebab memang ceriteranya masing-masing puteri kayangan ini ketika sedang mandi, biasanya setiap bulan saat purnama tiba, saling pandang dan selalu dalam suasana senda gurau.

Hanya memang sulitnya, karena legenda ini berkembang sebagai milik orang Minahasa, jadi kebenaran ceritera ini tetap diragukan. Namun, sebagai bukti otentik ketujuh sumur ini telah terbuka untuk dapat dikunjungi setiap saat. Nah, bagi yang penasaran dengan kebenaran ceritera ini, bisa membuktikannya sambil melakukan wawancara dengan penduduk yang lama bermukim di sekitar tujuh sumur permandian para puteri kayangan ini.

Untuk menjangkaunya, kita tidak perlu menyiapkan angkutan khusus. Sebab hanya dengan kendaraan umum, lokasi ini bisa dijangkau. Waktu tempuhnya juga tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar 30 menit dari pusat kota dengan angkutan darat, Parigi Tujuh ini sudah bisa disinggahi. Lokasi ini, saat sudah merupakan obyek kunjungan wisata peninggalan purbakala resmi. Di Parigi Tujuh ini, para pengunjung bisa melakukan kegiatan wisata kepurbakalaan sambil dapat melihat dan mengenal dari dekat legenda sejarah Parigi Tujuh sebagai cikal-bakal Legenda Tumatenden. Di lokasi wisata ini pun telah dilengkapi fasilitas tempat parkir yang memadai. (Syariah)

October 15, 2007 Posted by | Passport | 1 Comment

Pariwisata Sulut bisa Diandalkan

Edwin Silangen Kadis Parbud Sulut

            Objek-objek yang dapat menjadi tujuan para wisatawan bila berkunjung ke daerah ini, begitu kaya dan spesifik sehingga dapat diandalkan. Selain Bunaken, Sulut menyimpan puluhan lokasi penyelaman lain yang juga diminati para petualang alam bawah laut yang berkelas. Lokasi tersebut, diantaranya, Taman Laut Selat Lembeh (wilayah Kota Bitung) yang mulai dikenal dunia pariwisata internasional karena menjadi tempat perkawinan ikan-ikan paus yang spesifik. Selat Lembeh juga diminati karena galaknya sistem arus laut di sana.

Majalah National Geographic pada tahun 2005 sempat membuat laporan khusus tentang keunikan alam bawah laut Selat Lembeh. Bahkan, oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di lingkungan hidup kelas dunia mengklaim wilayah Selat Lembeh sebagai wilayah yang harus dikonservasi, harus dilindungi dari kerakusan tangan-tangan jahil.

Selain itu, Sulut juga masih menyimpan Gunung Api Ruang yang terletak di bawah laut. Di lokasi Gunung Api Ruang, para penyelam Jerman dan Perancis seolah-olah lupa terhadap seluruh keramaian dunia pada saat mereka menyelam mendekati wilayah kawah gunung yang terletak di bawah laut. Kekayaan alam laut dan bahari Sulut masih dilengkapi dengan Pantai Porodisa di perairan Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud. Orang Talaud menyebut pantai itu sebagai Pantai Porodisa.

Sebetulnya, kata Max Siso, tokoh dari Talaud, ungkapan itu untuk menyebut paradiso atau paradise (surga) terhadap perairan Lirung yang memang indah. Penyebutan nama Porodisa dimulai oleh pelaut Portugis ketika pertama kali mendekati perairan Lirung. Mereka ketika itu menemukan panorama alam yang sangat indah. Untuk menyatakan kekaguman mereka terhadap perairan Lirung yang sangat indah, mereka kemudian berteriak ini paradiso (surga). Oleh warga Talaud, paradiso disebut Porodisa. Hingga kini sebutan Porodisa masih saja digunakan oleh setiap warga Talaud. Bahkan, tokoh pengusaha nasional asal Talaud, Jerry Sumendap, dari Kelompok Usaha Penerbangan Bouraq kemudian mengukuhkan nama Porodisa ke dalam nama armada niaga laut yang didirikannya pada tahun 1970-an dengan sebutan Porodisa Lines. Sayang sekali, perusahaan pelayaran itu saat ini tinggal nama.

Andalan Sulut

Kepala Dinas Pariwisata Sulut, Drs Edwin Silangen, mengatakan, sektor pariwisata Sulut ke depan, seperti ditegaskan Gubernur Sinyo Harry Sarundajang, harus menjadi andalan dan unggulan. Ada lima sektor yang hendak dikembangkan secara total di daerah Nyiur Melambai ini, yaitu 1) pengembangan dan revitalisasi pertanian, 2) perikanan, 3) pariwisata, 4) pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan 5) perdagangan internasional. Ke lima sasaran ini akan didukung oleh infrastruktur yang diupayakan semakin memadai, good governance, dan clean government (kepemerintahan yang baik dan pemerintahan yang bersih), serta lingkungan hidup yang baik, terjaga dan berkelanjutan, serta tentu saja kondisi yang aman dan nyaman.

Menurut Silangen, khusus pariwisata, pengembangannya berbasis masyarakat. Artinya, masyarakat bukan hanya jadi obyek, apalagi jadi penonton, tetapi berperan sebagai subyek. Ia menunjuk contoh, dalam setiap upaya pengembangan selalu harus bisa dihitung berapa keuntungan yang bakal diraih masyarakat, berapa persen terjadi penurunan angka pengangguran, dan berapa persen sebuah proyek pariwisata mampu menurunkan angka kemiskinan. Konkretnya, Silangen menunjuk pengembangan pariwisata di Kota Tomohon, Tondano, dan sekitarnya. Di sana tidak harus ada hotel berbintang atau tidak harus didirikan hotel bertingkat. Di kota-kota itu, menurut desain yang disiapkan, akan digalakkan pengembangan home stay. Apalagi, khususnya di Minahasa sudah sangat akrab dan sangat dikenal kamar tamu harus tersedia di setiap rumah. Di setiap rumah di Minahasa, sesuai adat, kamar bagian depan disediakan sebagai kamar tamu. Konsep yang sudah berakar lama di tanah Minahasa ini yang didorong dan diberdayakan dengan menjadikan setiap kamar depan itu memiliki fasilitas sama dengan kamar-kamar hotel. Tinggal tergantung tipe dan kelas rumah, mana yang diarahkan menjadi kamar kelas istimewa, kelas superior, kelas standar, dan sebagainya.

Di Tomohon dan Tondano, hingga dua atau tiga tahun ke depan ditargetkan memiliki 1.000 kamar home stay. Kalau ini terjadi, akan menjadi tambahan pendapatan bagi rakyat, dan otomatis ikut membentuk rakyat menjadi semakin tourist minded. Paling tidak akan diciptakan 1.000 lapangan kerja dengan asumsi setiap kamar mempekerjakan satu orang. Kebetulan Kota Tomohon dan sekitarnya berpengalaman menjadi tempat penyelenggaraan berbagai konferensi atau pertemuan berkelas provinsi, nasional, regional, dan internasional. Tomohon, misalnya, pernah menjadi tempat penyelenggaraan sidang Dewan Gereja-gereja Indonesia, Sidang Dewan Gereja-gereja Asia, Sidang Dewan Gerejagereja Dunia. Pada setiap sidang itu seluruh peserta tinggal di rumah-rumah penduduk. Kita memang merancang hotel-hotel berbintang, tetapi kita juga merancang sistem akomodasi home stay. Tujuannya agar rakyat ikut menikmati pembangunan. Dan diantara hotel-hotel berbintang dengan home stay akan saling bersinergi, sehingga kekurangan kamar hotel akan ditutup lewat kerja sama dengan adanya home stay. (BbS/WeB)

September 15, 2007 Posted by | Passport | Leave a Comment

Manado & Tomohon Pamerkan Bunga di Kemilau Sulawesi

SULAWESI Utara sebagai tuan rumah Kemilau Sulawesi yang digelar di Boulevard Mall, mengikutsertakan Kabupaten/Kota seperti Kota Manado, Tomohon dan Kabupaten Minahasa Selatan. “Kami menampilkan berbagai jenis bunga sebagai tanda Tomohon adalah Kota Bunga (Flower of City),” kata Boy Rawis, penjaga stand Kota Tomohon kepada SINERGY.

            Berbagai jenis bunga ditampilkan stand Kota Tomohon, sekaligus mensosialisasikan “Tomohon Flower Festival 2008” yang rencananya digelar 29 Juni sampai 6 Juli dengan menampilkan antara lain Tournament of Flowers, seminar florikultura nasional, pameran, bursa dan lomba taman hias, kontes ratu bunga dan lomba lainnya.

Sementara Kota Manado tidak mau kalah. Meski dijuluki Kota Tinituan, Dinas Pariwisata Kota Manado ternyata mampu menampilkan berbagai jenis bunga yang kini sedang ngetrend. Bahkan ada bunga seharga Rp 18 juta yang ikut dipamerkan dan sekaligus dijual jika pengunjung berminat. Masing-masing bunga sudah diberi label harga, mulai dari Rp 45 ribu, 100 ribu hingga Rp 18 juta/pot. “Kami juga menampilkan potensi pariwisata Kota Manado yang menjadi andalan untuk menyukseskan Manado Kota Pariwisata Dunia 2010,” kata Kadis Pariwisata Kota Manado, Dra S Worang.

            Dikatakan, Manado memiliki Taman Laut Bunaken dan objek-objek wisata budaya seperti Taman Kesatuan Bangsa yang akan menjadi pusat pertunjukan berbagai budaya seperti tari-tarian, cakalele, teater, musik bia serta memiliki pemandangan pantai yang indah. “Kami terus berusaha menyukseskan MKPD 2010 yang sudah dicanangkan bapak Walikota Drs Jimmy Rimba Rogi,”kata Worang yang mantan Kasubag Umum Dinas Praskim Sulut.

WISATA AGRO

Lain lagi dengan Kabupaten Minahasa Selatan yang kini dipimpin seorang birokrat senior, Drs Ramoy Luntungan, menampilkan sejumlah objek wisata yang menarik seperti objek Wisata Agro di Modoinding, Batu Dinding di Kec Amurang, Bukit Doa Pinaling dan Pantai Moinit serta objek wisata Sungai Marwasey. Untuk wisata agro, mengandalkan hamparan tanaman holtikultura di antara pebukitan dan udara yang sejuk alami di Modoinding sebagai pusat pengembangan hortilkultura Sulut. Tempat wisata ini menjadi salah satu daerah kebanggaan Sulut termasuk di dalamnya Bukit Pinaling yang terletak di desa Pinaling Kec. Amurang Timur. Di sana pengunjung akan merasakan perpaduan antara keindangan alam dan sentuhan religius. “Bila anda merindukan tempat indah dan tenang yang penuh dengan mujizad, datanglah ke Bukit Pinaling,” komentar penjaga stand Kab. Minsel.

            Begitu juga dengan Pantai Moinit yang terletak di sebelah selatan Minsel antara desa Teep dan desa Tawaang Kec Amurang. Panitai ini banyak menyimpan keaneka-ragaman Flora dan Fauna seperti pohon bakau, tarsius spectrum, burung maleo, burung belibis dan juga terdapat sebuah sungai serta memiliki sumber air panas yang baik untuk kesehatan. Pantai Moinit dapat ditempuh sekitar 60 menit sejauh 70 km dari Manado. Dari pusat kota Amurang dapat ditempuh dengan angkutan umum. Sedangkan untuk Sungai Marwasey, cocok bagi mereka yang suka tantangan dan menggemari olah raga air seperti Arung Jeram. Letaknya di desa Tangkuney Kec Tumpaan, sekitar 30 km dari Kota Amurang. (MeL)

August 13, 2007 Posted by | Passport | 2 Comments

Dipersatukan Demi Kemajuan Tanah Minahasa

Prosesi adat yang berlangsung di Watu Pinawetengan Tompaso-Minahasa, akhir pekan lalu yang digagas panitia Festival Seni dan Budaya Sulut menjadi simbol sub etnis di Minahasa kembali disatukan dan tetap bersatu demi kemajuan Minahasa. Acara yang menakjubkan ini merupakan kegiatan pertama yang dilakukan di Minahasa. Hal ini patut diacungkan jempol, karena seorang tokoh Kawanua Overseas (orang kawanua di perantauan) Kombes Drs Benny Mamoto mampu melakukan kegiatan akbar seperti ini yang jarang di lakukan oleh Tou Minahasa.

Acara yang dikemas begitu ‘sakral’ yang bernuansa ritual membuat seeneto Minahasa tertuju pada perhelatan ini karena begitu hebatnya yang dimiliki komunitas masyarakat Minahasa yang mengusung nilai demokrasi dan semangat kehidupan Minaesa.

Semangat persatuan yang digagas Mamoto ini patut kita lestarikan dan kembangkan dan jangan hanya dijadikan sebagai seremonial belaka. Tapi bagaimana persatuan keminaesaan ini terus terwujud dan dapat diimplementasikan dalam semangat persatuan Tou Minahasa. Apalagi Minahasa telah terbagi pemerintahannya secara adminstratif menjadi daerah otonom.

Karena itu, warga Minahasa asli harus sejak dini terus mencintai budaya dan adat Minahasa dapat mengejawantahkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin terpuruk dalam semangat persatuan dan kesatuan. Namun sangat disayangkan beberapa pejabat di Minahasa raya termasuk bupati yang berada di kabupaten/kota tak tampak dalam perhelatan di watu Pinawetengan yang sangat menyentuh demi kelestarian budaya Minahasa.

Bagi juru kunci Watu Pinawetengan Ari Ratumbanua, sekarang ini budaya Minahasa semakin lama semakin lenyap karena perkembangan zaman dan pengaruh budaya asing yang masuk ke tanah Toar Lumimuut.

Dengan munculnya tokoh-tokoh budaya, maka budaya Minahasa dapat dilestarikan dan dikembangkan. Seperti yang diamanatkan oleh para leluhur kita.

Dalam bentuk mempersatukan tanah Minahasa ini, sehingga dalam suatu upacara adat yang digagas oleh Panitia Festival Seni Budaya Sulut terlihat suatu ungkapan syukur bahwa Minahasa ini tetap bersatu, walaupun Tanah Minahasa secara administrasi terjadi pemekaran tapi harus tetap satu dalam keminaesaan.

Lebih lanjut, kata Ari-begitu dia akrab disapa pengunjung tempat sakral ini-selama saya bertugas sebagai juru kunci ada beberapa hal yang terjadi, tergantung dari niat orang tersebut yang datang berkunjung di tempat ini. Yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan di tempat ini yakni tentang hal-hal yang baik, lebih mengutamakan yang Maha Kuasa atau Opo Wananatase, opo Wailan untuk mendoakan anak cucu turun temurun.

“Bagi orang yang memiliki pemikiran yang tidak berkenan atau tidak baik, maka orang tersebut akan diusir ditempat ini seperti yang terjadi pada pak Hiter, selain itu juga ada pak Joos yang tergantung di atas batu, begitu juga dengan pak Hengky yang kepalanya terpukul di batu. Bahkan ada mobil yang berjalan sendiri tanpa ada orang yang mengendarai terjadi pada tanggal 10 Oktober beberapa tahun yang lalu. Jadi bagi mereka yang memiliki pemikiran yang tidak baik datang di tempat watu Pinawetengan akan mengalami akibat dari niatnya yang tidak baik. Disini tidak selalu menyusahkan anak cucunya, malah menuntun kita ke jalan yang lebih baik dan selalu mengutamakan yang Maha Kuasa.” tambah Ari.

Acara yang digagas di Watu Pinawetengan dilanjutkan juga acara upacara adat di Batu Tumoutowa yang bertepatan di dalam lapangan Pacuan Kuda Maesa Tompaso. Tampil berkuda sembilan sub etnis Minahasa diantaranya Tountemboan, Tombulu, Toulour, Tounsawang, Tounsea, Pasan, Ratahan, Ponosakan Belang dan Bantik.

Rombongan berkuda yang menggunakan seragam Kabasaran yang dipimpin langsung oleh Tonaas Jessy Wenas ini melakukan penghormatan di Batu Tumoutowa sambil diringi kelompok Maengket dan disaksikan oleh ribuan pengunjung baik masyarakat Minahasa maupun turis lokal dan mancanegara. Bahkan Bupati Minahasa Selatan Drs RM Luntungan menyempatkan hadir untuk mengikuti prosesi upacara adat ini yang

didampingi Benny Tengker dan Benny Mamoto.

Selain itu juga dalam acara yang sama dirangkaikan dengan Festival songara kacang Kawangkoan dan makan Bapao (Biapong) sebanyak 2007 biji yang dipandu langsung oleh bupati Minahasa Selatan Drs RM Luntungan untuk makan secara serentak, yang sempat hadir dalam perhelatan ini dan akhirnya Festival makan Biapong ini pun mendapat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Menurut Paulus Pangka yang mewakili MURI mengatakan, Kebiasaan makan bersama merupakan hal yang sangat baik, hal ini digalakkan kembali di dalam kehidupan keluarga agar terjadi kerukunan dan nilai-nilai moral pada saat kita makan bersama. MURI dalam hal ini mencatat dari segi kuantitas dan jumlah. Jumlah makan makanan terbanyak memang sudah ada tapi jenis Bapao (biapong) baru kali ini dilaksanakan dengan jumlah 2007 Bapao. “MURI memberikan kriteria membuat semua elemen masyarakat bisa menciptakan MURI yang baru. Jadi makan bapao terbanyak dengan peserta makan serentak secara bersamaan pada tempat yang sama. MURI mencatat pada urutan rekor 2826,” ujar Pangka. (Otnie/WeB)

July 16, 2007 Posted by | Passport | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.