Sam Ratulangi Yang Populerkan Kata Indonesia
DR GSSJ Ratulangi dalam sejarah disebut-sebut sebagai orang pertama yang menggunakan kata Indonesia. Benarkah? DR GSSJ Ratulangi sendiri memang tidak pernah mengatakan bahwa Ialah yang menciptakan kata Indonesia. Namun yang pasti, hingga kini, kita tidak pernah tahu dengan jelas siapa yang pertama kali mempopulerkan kata INDONESIA. Tetapi (mungkin) kita perlu menyimak pengakuan yang datang dari Presiden RI I, Ir. Soekarno tentang kata INDONESIA. Katanya: “Saya mau menceritakan pengalaman saya sendiri. Empat puluh tahun yang lalu. Pada waktu itu banyak sekali diantara saudara-saudara yang belum lahir di dunia. Saya pada waktu itu masih menjadi murid dari pada Hogere Burglijke School di Surabaya. Saya menjadi utusan dari pada satu perkumpulan pemuda, datang mengunjungi kongres di Bandung. Pada waktu senggang tidak ada sidang dari pada kongres itu, saya berjalan-jalan di jalan Braga, di Bandung dan disitu saya baca satu di atas papan tulis tertulis LEVENSVERZEKERING MAATSCHAPPIJ INDONESIA. ” LEVENSVERZEKERING MAATSCHAPPIJ INDONESIA. Itu ada tulisan yang berbunyi “INDONESIA”, pertama kali dengan terang-terangan di wilayah tanah air kita INDONESIA. Saya bertanya kepada orang Bandung, “Apa ini Levensverkering Maatschappij Indonesia? Oh, itu adalah perseroan tanggung jiwa yang dipimpin oleh seorang Doktor dari MINAHASA. Namanya Ratulangie.” Sejak saat itu, Soekarno mengatakan: “Tak dapat saudara menulis sejarah Indonesia tanpa menulis di dalamnya nama GSSJ RATULANGIE. … UNTUK SATU BANGSA INI, SAUDARA GSSJ RATULANGIE telah memopulerkan buat pertama kali namanya, yaitu INDONESIA.”
Kata Indonesia sebelumnya sudah santer digunakan Sam Ratulangi sejak di Belanda, di kalangan mahasiswa asal Indonesia di Leiden semasa Perang Dunia I sekitar 1917. Ketika itu, Sam Ratulangi termasuk dalam kelompok peduli Indonesia di Belanda. Ia giat memopulerkan nama Indonesia. Dan, itupun dilakukannya sampai ke tanah air. Buktinya, pengakuan Bung Karno, orang nomor satu di Republik ini.
Sam Ratulangi telah menggunakan kata INDONESIA pada perusahaan asuransinya di Bandung, dengan nama LEVENSVERZEKERING MAATSCHAPPIJ INDONESIA. Itu tahun 1925.
Jauh sebelumnya, di masa penjajahan India-Belanda memang telah muncul kata Indonesia. Pertama kali kata itu digunakan oleh dua orang Inggris, yaitu George Samuel Windsor Earl, seorang Pengacara kelahiran London dan James Richardson Logan, seorang Pengacara kelahiran Scotlandia. Mereka menulis artikel sebanyak 96 halaman di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, No. 4, tahun 1850 dengan judul ”The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders.” Mereka menamakan penduduk India-Belanda bagian Barat yang berasal Proto-Malaya (Melayu tua) dan Deutero-Malaya (Melayu muda), sebagai Indunesians (Indu, bahasa Latin artinya India; dan Nesiaans, asal katanya adalah nesos, bahasa Yunani, artinya: Kepulauan). Sedangkan penduduk di wilayah India-Belanda bagian Timur masuk ke dalam kategori Melanesians (Mela = Hitam. Melanesia = kepulauan orang-orang hitam). Earl sendiri menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (adistinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: … the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.
Earl menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl akhirnya memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Kemudian, menyusul Adolf Bastian, seorang dokter dan sekaligus etnolog Jerman. Ia memopulerkan nama Indonesia ketika menerbitkan laporan perjalanan dan penelitiannya di Berlin, yang diterbitkan dalam karya 5 jilid (1864 – 1894) dengan judul “Indonesien, oder die Inseln des malaysischen Archipels” (bahasa Jerman, artinya: “Indonesia, atau Pulau-Pulau dari Kepulauan Malaya”). Jilid I berjudul Maluku, jilid II Timor dan Pulau-Pulau Sekitarnya, jilid III Sumatera dan Daerah Sekitarnya, jilid IV Kalimantan dan Sulawesi, jilid V Jawa dan Penutup.
Putera ibu pertiwi yang mulamula menggunakan istilah ”Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Selanjutnya, pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A.Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920. Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi, kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern.
Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda. Di tanah air, Dr. Sutomo ikut menggunakan kata INDONESIA. Ia menggunakan kata Indonesische Studie Club tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu, setelah Sam Ratulangi, pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan yang dia namakan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda- Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentahmentah.
Dari berbagai sebutan tadi –yang dipaksakan artinya menjadi Indonesia– jelas hanya Sam Ratulangi yang menulis kata dengan benar dieja INDONESIA, dengan tulisan INDONESIA. Bandingkan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) Indonesische Persbureau (1913). Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Dr. Sutomo mendirikan Indonesische
Studie Club pada tahun 1924. Tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij. (BbS)
Legenda Ratu Oki Mitra 2007
Ratu Oki, menurut legenda dari suku Tounsawang merupakan seorang wanita cantik yang tidak pernah pudar dimakan usia dan tetap berwibawa, sehingga disegani di zaman kejayaannya.Karena disegani, Ratu Oki kemudian diangkat menjadi Tonaas Wangko; Ukung Oki –namanya sebelum jadi Ratu. Ratu Oki, terkenal sakti dan memiliki kemampuan menjadi seorang pemimpin. Sehingga waktu itu, ketika Simon Cos dari VOC Belanda melakukan perdagangan di daerah Minahasa Selatan dan ingin menguasai daerah ini, Tonaas Wangko Ukung Oki, mengulurkan tangannya untuk menghentikan kapal VOC untuk berdagang di daerah ini.
Nah, disitu Simon Kos melihat kesaktian dari Tonaas Wangko Ukung Oki ini dan akhirnya mereka memilih jalan dialog. Hasil dialog yang dituangkan dalam perjanjian, VOC yang dipimpin oleh Simon Kos harus mengakui kepemimpinan Tonaas Wangko Ukung Oki.
Kemudian, mengakui budaya setempat, dalam artian VOC, dalam hal ini Belanda, harus mengakui budaya setempat yang mengedepankan larangan menghina dan jangan mencuri.
Yang paling penting, menghormati wanita. Hal ini yang menjadi kekaguman, karena di jaman itu Tonaas Wangko Ukung Oki mampu melakukan hal ini dengan kemampuan dan kesaktiannya.
Selain itu, VOC pun dipaksa melakukan perjanjian dagang dengan kepemimpinan Tonaas Wangko Ukung Oki waktu itu, untuk pembangunan sarana jalan, diantaranya Tombatu-Tababo dan Belang. Kemudian sarana jalan Tombatu ke Ranoyapo, karena sumber pangan berada di daerah Ranoyapo. Kemudian sebagai gudang harus ada di Tombatu dan Belang. Sedangkan kawasan barter berada di Ratahan dan Kawangkoan.
Waktu itupun, karena kesaktian dan kepemimpinan Tonaas Wangko Ukung Oki ini, ia diakui untuk memimpin kelima walak masing-masing Tounsawang, Pasan, Ponosakan, Belang dan Tountemboan. Rakyat waktu itu mengalami kemakmuran, karena hasil bumi yang bisa menembus Eropa. Kemudian ketika Raja Doloda Mokoagow dari Bolaang Mongondouw mendengar kesaktiannya dia melamar Tonaas Wangko Ukung Oki ini. Kenekadan Raja Doloda Mokoagow untuk melamar Ratu Oki sebagai pendamping hidupnya, karena terpicut oleh kecantikannya yang tidak memudar dan kesaktian serta kemampuannya dalam memimpin lima walak. Apapun yang Tonaas Wangko Ukung Oki minta sebagai persyaratannya, dikabulkan Raja Doloda Mokoagow sebagai mas kawin. Dia (Tonaas Wangko Ukung Oki, red) menerima dengan syarat waktu itu yakni batas wilayah (waktu itu menjadi sengketa antara Minahasa dan Bolaang Mongondouw) harus bergeser dari sungai Ranoyapo sampai di sungai Poigar dan dari sungai Belang bergeser sampai sungai Buyat.
Ketika Tonaas Wangko Ukung Oki menikah dengan Raja Doloda Mokoagow, maka dengan sendirinya dia menyandang gelar Ratu Oki. Nah, dari hasil perkawinan kedua suku yang berbeda ini mendapat anak namanya Manopo, sehingga tak heran ada marga Manopo di Tounsawang dan Manoppo di Bolmong. Dan, sebenarnya mereka masih bersaudara. Kelima suku walak ini terkenal dengan pekerja keras dan mengalami kemakmuran waktu itu. (Otnie/WeB)
Kwan Kong
Legenda Rakyat Tounsawang
Menurut cerita orang kampung dulunya di tahun 200 di dataran Minahasa datang seorang keturunan cina yang dikenal dengan nama Kwan Kong, kemudian menetap di tanah Minahasa tepatnya di daerah Tounsawang. Di sana Kwan Kong diangkat menjadi kepala suku di jaman itu. Dan sempat mempersunting anak suku Tounsawang yang bernama Rosalina Kosegeran (adik tiri dari Dotu Oki Manopo). Mengapa dikatakan adik tiri dari Dotu Oki, karena menurut cerita, ibu dari Dotu Oki dan Rosalina ini dua kali kawin. Dalam perkawinan pertama mendapatkan anak namanya Dotu Oki dan perkawinan kedua mendapatkan anak Rosalina Kosegeran.
Perkawinan kedua suku yang berbeda ini (Kwan Kong dan Rosalina Kosegeran), menghasilkan tiga anak yakni; Guan Sing, Lien Hua dan ….. anak kedua dari Kwan Kong ini dikenal memiliki danau yang dipenuhi dengan teratai. Danau ini terdapat di daerah hutan Tounsawang. Diyakini danau ini, tidak sembarang orang boleh ke tempat tersebut, karena diyakini sebagai tempat keramat. Lebih unik lagi, menurut cerita tempat itu bila orang ke danau tersebut dan tujuannya tidak tulus, dia tidak akan melihat dan menemukan danau tersebut. Menghilang dari pandangan mata. Apabila kita telah berada di danau itu, kita tidak bisa mengambil airnya, tanpa restu dari “penunggu” atau tuan danau. Karena air danau Lien Hua memiliki khasiat khusus yakni bila seorang pria membawa air danau, maka gadis yang akan kita temui dan menghirup bau dari air itu maka orang yang menghirupnya akan ikut bersama-sama dengan orang yang membawa air tersebut (seperti terhipnotis). Hal ini yang berbahaya bila salah menggunakannya. Karena itu tidak sembarangan orang mendapat restu dari pemilik danau Lien Hua untk membawa air danau tersebut. Kwan Kong di zaman itu menjadi kepala suku Tounsawang karena dia memiliki kemampuan berperang, yang tak terkalahkan. Sosok Kwan Kong yang berwatak keras dan melindungi rakyatnya, membuat dia sangat dikenal di jaman itu. Kwan Kong di dataran Cina dikenal sebagai panglima perang yang tangguh, dan di takuti di dataran Cina. Sekarang ini bila sudah ada petunjuk di mana tempat peristirahatan Kwan Kong di Tounsawang, maka ada rencana untuk membangun sebuah Klenteng Kwan Kong di Tounsawang, tapi tepatnya di mana masih dalam tahap pencarian lokasi yang tepat.*
Versi Internet
Guan Yu lahir tahun 162 – meninggal 219 = 57 thn Guan Yu dilahirkan negara bagian Xie (bagian wilayah dari Yuncheng, Shanxi). Tahun dimana ia dilahirkan tidak ditemukan dalam catatan sejarah, tetapi diperkirakan tahun kelahiran Guan Yu tahun 160. “Gong” artinya Tuan, gelar kehormatan, sementara “Guan” adalah nama keluarga. Oleh karena itu Guan Gong artinya “Tuan Guan”. Nama sebenarnya adalah Guan Yu. Ini adalah nama dimana ia mulai berkarir di militer.
Guan Yu sebenarnya punya 2 istri, istri pertamanya bernama Hu Jin-ting merupakan ibu kandung dari Guan Ping dan Guan Suo. Hu Jinting meninggal sewaktu berada di Jingzhou. Sepeninggal Hu, Liu Bei menjodohkan seorang istri lagi bagi Guan Yu. Tidak ada catatan mengenai nama istri keduanya ini, namun istri keduanya ini melahirkan Guan Xing dan seorang anak perempuan. Jadi dugaan mengenai Guan Yu mempunyai anak perempuan memang benar adanya.
Silsilah keluarga Guan Yu yang lebih teliti didapat dari nisan Guan Yu yang ditemukan secara tidak sengaja pada masa kekuasaan Kaisar Kangxi, di kampung halaman Guan Yu, Jiezhou ditemukan papan nisan kuburan Guan Yu sewaktu penggalian sebuah sumur. Di dalamnya dituliskan bahwa Guan Yu mempunyai istri dan anak kandung. Di dalam San Guo Zhi sendiri, pernah dicatat bahwa Guan Ping adalah anak kandung Guan Yu, bukan anak angkat seperti yang banyak dipercayai orang.
Guan Gong – DEWA PERANG
Dalam mitologi China
Macam2 nama :
Changsheng, Chang-Yun, Chang-Sheng, Guan-di, Guan Gong, Guan Kong, Guân Yǔ, Kuan Kong, Kuan-Kung, Kuan Ti, Kwan Kong, Kwan Kung, Kuan Yu, Yunchang, Zhang-Sheng, Zhang-Yun,
Name in Buddhism: Sangharama Bodhisattva
Deity name : Saintly Emperor
Guan, Lord Guan, Lord Guan the Second, Lord of Magnificent Beard, God of Guan
Jas Merah
PERISTIWA MERAH PUTIH 14 FEBRUARI 1946
Setiap tanggal 14 di bulan Februari bagi sebagian besar anak muda/remaja di Manado hanya tahu itu adalah hari kasih sayang atau lebih dikenal VALENTINE’S DAY. Kalau ditanya lebih jauh apakah mereka tahu pada tanggal 14 Februari 1946 ada peristiwa “heroic” melawan NICA/Belanda di Manado? Mungkin sebagian besar menjawab tidak tahu. BW Lapian dan CH Taulu juga mereka tidak kenal siapa mereka dan apa kontribusi mereka dalam peristiwa yang menurut mantan rektor IKIP Manado (sekarang UNIMA) Prof. Jan Turang, menjadi awal dari proses sinergitas daerah dan pusat, serta Jawa dan Luar Jawa.
Sejak Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, Belanda selalu memprovokasi ke dunia luar bahwa itu hanyalah gerakan segelintir orang di Jawa. Dampak negatif dari provokasi Belanda itu dirasakan LN Palar, Duta Besar Pertama RI di PBB. Yang sedang berjuang di PBB untuk mendapatkan dukungan PBB dan Negara-negara anggota PBB.
Palar melakukan kontak dengan para pejuang di Manado, meminta pejuang di Manado melakukan kegiatan perlawanan terhadap Belanda. Bangkitnya keberanian warga Minahasa untuk merebut kekuasaan dari tangan Belanda juga semakin terdorong ketika mereka membaca pesan rahasia (surat dibawa oleh Nona Politon) dari Pahlawan Nasional DR Sam Ratulangi (Gubernur Sulawesi pada saat itu) di Makassar. Oom Sam meminta tentara KNIL, asal Minahasa yang pro RI segera melakukan aksi militer di tangsi KNIL, di Teling Manado.
Surat rahasia dari Oom Sam itu dibawa ke BW Lapian (politisi) dan CH Taulu (tokoh militer), dua pemimpin perjuangan RI di Tanah Minahasa. Sejumlah tentara KNIL dan tokoh masyarakat maupun politisi Minahasa yang pro RI langsung merancang perebutan tangsi tentara KNIL tersebut. Peristiwa itu direalisasikan para pejuang pada tanggal 14 Februari 1946 dinihari. Seluruh pimpinan teras tentara di tangsi itu, termasuk seluruh pimpinan Garnizun Kota Manado yang juga bermarkas di tangsi ditangkap dan disel. Peristiwa itu berlangsung mulai pukul 01.00 Wita hingga 05.00. Tepat pukul 03.00, para pejuang menurunkan bendera Kerajaan Belanda,
Merah Putih Biru, merobek warna birunya dan menaikkan kembali warna Merah Putih ke puncak tiang bendera di markas tentara yang disebut-sebut angker karena dihuni pasukan KNIL, pasukan berani mati, andalan Belanda.
Dengan cepat kejadian ini tersebar ke Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Peristiwa ini sangat bernilai strategis, sebab hanya beberapa jam kemudian seluruh dunia mengetahui bahwa tidak benar provokasi Belanda; Kemerdekaan RI cuma sebatas perjuangan di Jawa. Dunia lewat peristiwa ini, akhirnya tahu, Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 didukung oleh seluruh rakyat Indonesia.
MONUMEN YANG TERLANTARKAN
Tahun 1985, dibangunlah Monumen Merah Putih 14 Februari 1946 di Kawangkoan. Dengan ketua panitia pembangunan Bupati Minahasa J Lelengboto juga dibantu anak mantunya, Bpk Ghandi kepala BPKP pada saat itu. Sayangnya pada saat ini, monumen ini tidak terurus dan terabaikan. Kami, beberapa minggu lalu, berhasil menemui orang yang berada di sana. Katanya, beberapa tahun ini sudah tidak ada bantuan lagi dari pemerintah baik Kabupaten Minahasa maupun Propinsi Sulut. Sangat disayangkan bahwa monumen ini sudah tidak menjadi perhatian pemerintah, padahal bila monumen ini bisa dirawat dengan baik. Generasi muda bisa datang dan melihat monumen yang diharapkan bisa mengingat peristiwa ini. Juga monumen ini bisa menjadi salah satu tempat kunjungan wisata, karena peristiwa “heroic” biasanya wisatawan senang mengunjunginya. Karena nilai historisnya “Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946”.
Semoga apa yang menjadi keprihatinan kita bisa menyentuh perasaan para petinggi di Sulut atau Minahasa untuk menangani hal ini. Supaya apa yang pernah dikatakan Presiden pertama RI Ir. Soekarno: “JAngan Sekali-kali MEninggalkan SejaRAH (Jas Merah) maka menjadi kewajiban kita generasi muda untuk selalu mengingat akan jasa-jasa pahlawan pendahulu kita, tanpa perjuangan mereka, kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini tentu hanyalah mimpi di siang bolong”. Makase… Oom Sam, Babe Palar, BW Lapian, CH Taulu, Nona Politon, dan lain-lainnya. Jasamu akan kami kenang terus sepanjang masa. Amin. (AdL)
-
Recent
- Roy Inkiriwang: Diplomat yang Mengandalkan Tuhan
- SVR: Gagal Angkat Eceng Gondok Saya Mundur
- BKSP Sulut Studi Banding ke Jerman
- Karinda: Manado Sangat Diuntungkan
- SHS: Kontribusi Warga Jaga Keamanan
- Sambut WOC, LANUD SRI Siagakan Keamanan
- WOC Populer Sampai Pelosok Desa
- Mata Dunia Tertuju di Sulut
- Usoh Laris Manis, Pontoh Kian Berani
- STOP KAMPANYE BIBIR GANTI BUDAYA
- BENITO : Sang Fenomenal
- Menyalakan Lilin Di Kegelapan
-
Links
-
Archives
- May 2009 (1)
- March 2008 (16)
- October 2007 (2)
- September 2007 (1)
- August 2007 (2)
- July 2007 (1)
- June 2007 (5)
- May 2007 (1)
- April 2007 (1)
- March 2007 (2)
- February 2007 (8)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS